Minggu, 13 September 2015

SUBSITEM BUDIDAYA PERTANIAN (ON FARM) DALAM SISTEM AGRIBISNIS

1.1.    Latar Belakang
Pembangunan pertanian menjadi sangat penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat terutama diwilayah pedesaan, maka orientasi pembangunan pertanian diarahkan kepada model sistem agibisnis yang serasi dan terpadu dengan keterkaitan yang erat antara berbagai subsistemnya (hulu dan hilir). Akhir-akhir ini telah muncul pandangan bahwa pembangunan pertanian harus dilihat secara menyeluruh (holistik), terintegrasi antar seluruh instansi dan stakeholder terkait. Hal ini disadari karena sektor pertanian tidak terlepas dari kegiatan untuk menghasilkan bahan pangan (food) yang merupakan kebutuhan asasi manusia yang mesti dipenuhi disamping untuk kebutuhan pakan (feed) dan energi terbarukan (biofule). Selain itu, tidak dapat dipungkiri sektor pertanian telah berkontribusi terhadap PDB, sumber bahan baku industri, dan membuka lapangan pekerjaaan baik disubsitem hulu (dwon strem),  sub sistem budidaya (on farm) , subsistem hilir (up strem) serta subsistem penunjang (kebijakan pemerintah, penelitian, penyuluhan dan perkereditan/pembiayaan).
Subsitem usaha tani atau budidaya (on farm) meruapakan susistem dalam sistem agribisnis paling utama dalam kegiatan agribisnis, karena semua kegiatan agribisnis ada karena adanya kegiatan untuk memproduksi produk pertanian. Menurut Downey dan Erickson (1989) “Keuntungan dari usaha tani/ budidaya hanya 30 % saja sedagkan 70 % nya berada pada sektor hilir (pengolahan dan pemasaran)”. Walaupun demikian sector produksi merupakan yang paling utama dalam kegiatan agribisnis. Oleh sebab itu perlu untuk memahami seluruh subsector dalam agribisnis tersebut, sehingga dapat untuk memahamai sitem agribisnis secara utuh.
Indonesia sebagai negara agraris tentu sudah mempunyai banyak pengalaman dalam dunia pertanian terutama pada subsistem budidaya atau usaha tani dengan dukungan lembaga-lembaga penelitian dalam bidang budidaya. Selain itu sebagian besar tenaga kerja pada subsistem budidaya, oleh sebab itu kegiatan budidaya masih menjadi perhatian utama dalam pembangunan pertanian secara umum. Berkaitan dengan hal tersebut makalah ini bertujuan untuk melihat peran dan perkembangan subsitem budidaya atau usaha tani dalam system agribisnis.

1.2.    Perumusan Masalah
Kegiatan subsistem budidaya atau usaha tani masih menjadi sector utama dalam kegiatan agribisnis di Indonesia, namun dalam system agribisnis semua subsitem harus saling terintegrasi sehingga kegiatan agribisnis menjadi utuh mulai dari kegiatan hulu sampai hilir. Walaupun susbsitem budidaya sudah lama berkembang dan penyerap tenaga kerja paling besar dalam system agribisnis bukan berarti subsistem budidaya tidak luput dari permasalahan. Beberapa permasalahan dalam subsistem budidaya adalah belum menyeluruhnya petani menerapkan system budidaya yang baik (Good Agricultur Practice), lahan pertanian yang semakin berkurang akubat alih fungfsi lahan dan keadaan iklim yan sulit diprediksi akhir-akhir ini.

1.3.    Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penulisa makalah ini adalah untuk melihat berbagai kegiatan dalam agribisnis dalam hal ini subsector budidaya/usaha dalam perannya dalam system agribisnis di Indonesia. Kegunaan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas matakuliah sistem agribisnis.

1.4.  Sistem Agribisnis
Agribisnis merupaka sebuah system keterkaitan antara sector input produksi, kegiatan budidaya, pengolahan dan pemasaran serta penelitian dan penyuluahan. Semua sub system tersebut dalam keseluruhannya disebut dengan system agribisnis. Pada mulanya agribisnis didefinisikan secara sempit, hanya sub sector produksi/ budidaya saja tetapi juga menyangkut pasca panen, pemprosesan, penyebaran dan penjualan (Downay dan Erikson, 1989 dalam sukardono, 2009).
Menurut Saragih (1998), agribisnis merupakan  suatu sector ekonomi modern dan besar dari pertanian primer, yang mengcakup empat sub system yaitu : 1) subsistem agribisnis hulu (up-stream). Yaitu kegiatan ekonomi yang menghasilkan agroindustri hulu dan memperdagangkan sarana produksi pertnian primer (seperti industri pupuk. Obat-obatan, benih dan alsintan. 2) Sub system usaha tani (on farm) yang dimasa lalu disebut dengan sector pertanian primer. 3) subsistem agribisnis hilir (down stream), yaitu kegiatan ekonomi pertanian yang mengelola hasil pertanian primer baik yang siap untuk dimasak maupun siap untuk disaji. 4) subsitem jasa pendukung laiinya seperti perkereditan, asuransi, trasportasi, pergudangan, penyuluhan, kebijakan pemerintah dan lain-lain.
Gambar 1. Keterkaitan berbagai subsistem dalam system agribisnis

Keempat subsistem tersebut saling terkait dan saling menentukan. Subsistem usaha tani memerlukan input dari subsistem agribisnis hulu, sebaliknya susbsistem agribisnis hulu memerlukan subsistem usaha tani sebagai pasar produknya, sedangkan subsitem hilir memerlukan produk untuk diolah dan diperdagangakan dari subsistem usaha tani, ketiaga subsitem diatas akan memerlukan subsistem jasa layanan pendukung untuk memeperlancar aktivitasnya. Dalam hal budaya atau usaha tani terdiri dari empat subsector pertanian yang bisa dikembangkan di Indonesia yaitu Subsektor tanaman pangan, peternakan, perkebunan dan hortikulturan.

1.5.  Perkembangan Budidaya pertanian dalam kegiatan Agribisnis
Kegiatan budidaya pertanian secara umum akan berbeda setiap komoditas pertanian, sector pertanian terbagi pada beberapa sub sector yaitu : sector pertanian tanaman pangan, sector perkebunan, peternakan dan hortikultura. Masing-masing komoditas tersebut telah menunjukan perannya dalam kegiatan agribisnis terutama pada sub sector budidaya.
1.5.1.           Tanaman Pangan
 Tanaman pangan merupakan menjadi prioritas penting untuk dikembangkan untuk mencukupi kebutuhan pangan utama yaitu beras. Beberapa tanaman pangan yang dikembangkan di Indonesia meliputi padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau dan ubi kayu. Padi merupakan komoditas produk tanaman pangan yang paling tinggi produksinya dibandingkan komoditi tanaman pangan lainnya. Pada tahun 2007 produksi padi nasional adalah 57,15 juta ton dan mengalami peningkatan sampai 66, 46 juta ton pada tahun 2010, namun pada tauhun 2011 produksinya menurun menjadi 65,47 juta ton atau turun 1,10%. Banyak faktor yang menyebabkan penurunan produktivitas komoditas padi adalah iklim yang tidak menetu sepanjang tahun 2011 dan tingginya alih fungsi lahan sawah menjadi lahan perkebunanataupun pemukiman. Begitu juga dengan komoditi jagung mengalami penurunan produksi 18,32 juta ton pada tahun 2010 menjadi 17,62 pada tahun 2011 atau turun sekitar 3,8 %. Kacang kedelai juga mengalami penurunan 6,97 % dari tahun 2010 dengan produksi mencapai 907, 03 ribu ton turun menjadi 843,8 ribu ton pada tahun 2011.

Tabel 1. Perkembangan produksi tanaman pangan di Indonesia tahun 2007-2011
Tahun
Komoditi
Padi
Jagung
K. Kedelai
K. Hijau
K. Tanah
U. Kayu
U. Jalar
2007
      57,157,435
    13,287,527
         592,534
    322,487
   789,089
19988058
    1,886,852
2008
      60,325,925
    16,317,251
           77,571
    298,059
   770,054
21756991
    1,881,761
2009
      64,398,890
    17,629,748
         974,512
    314,486
   777,888
22039145
    2,057,913
2010
      66,469,394
    18,327,636
         907,031
    291,705
   779,228
23918118
    2,051,046
2011*)
      65,740,946
    17,629,033
         843,838
    341,097
   690,949
24009624
    2,192,242
Pertumbuhan 2011 over 2010
                       -1.10
                      -3.81
                   -6.97
         16.93
-11.33
                    0.38
               6.88

Sumber          : Statistik Kementerian Pertanian (diolah)
*)              : Angka ramalan

     Tabel 1 diatas menunjukan bahwa komoditi tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kacang kedelai mengalami penurunan produksi, walaupun penurunannya tidak signifikan. Hal ini mungkin disebabkan oleh iklim yang tidak bisa diprediksi sepanjang tahun 2011 sehingga banyaknya terjadi gagal panen didaerah-daerah sentra produksi. Sedangkan untuk komoditi ubi kayu dan ubi jalar mengalami peningkatan, ubi kayu pada tahun 2010 produksinya 23,91 juta ton pada tahun 2011 naik menjadi 24,0 juta ton atau sekitar 0,38 %. Komoditi ubi jalar menunjukan peningkatan produksi yang tinggi sebesar 6,88 %. Meningkatnya produksi ubi kayu maupun ubi jalar disebakan oleh komoditi tersebut lebih tahan terhadap perubahan iklim atau cuaca, selain itu komoditi ubi kayu menunjukan harga yang tinggi dan permintaannya tinggi sehingga petani tertaruk untuk mengembangan tanaman ubi kayu.
     Walaupun penurunan produksi dari berbagai makanan pokok pada komoditas tanaman pangan, perlu untuk lebih meningkatkan produksi pangan dalam negeri karena sangat berkaitan dalam hal mewujudkan kemandirian pangan dalam negeri oleh produk dalam negeri sendiri.

Tabel 2. Luas Panen tanaman pangan seluruh Indonesia tahun 2007-2011
Tahun
Komoditi
Padi
Jagung
K. Kedelai
K. Hijau
K. Tanah
U. Kayu
U. Jalar
2007
      12,147,637
      3,630,324
         459,116
    306,207
   660,480
   1,201,481.00
176,932
2008
      12,327,425
      4,001,724
         590,956
    278,137
   633,922
   1,204,933.00
174,561
2009
      12,883,576
      4,160,659
         722,791
    288,206
   622,616
   1,175,666.00
183,874
2010
      13,253,450
      4,131,676
         660,823
    258,157
   620,563
   1,183,047.00
181,073
2011*)
      13,201,316
      3,861,433
         620,928
    297,126
   539,230
   1,182,637.00
177,857
Pertumbuhan 2011 over 2010
                    -0.39
                  -6.54
                  -6.04
         15.10
     -13.11
                       -0.03
                   -1.78
Sumber          : Statistik Pertanian (diolah)
          *)           : Angka sementara 




Tabel 3. Produktivitas tanaman pangan tahun 2007-2011
Tahun
Komoditi
Padi
Jagung
K. Kedelai
K. Hijau
K. Tanah
U. Kayu
U. Jalar
2007
47.05
36.60
12.91
10.53
11.95
166.36
106.64
2008
48.94
40.78
01.31
10.72
12.15
180.57
107.80
2009
49.99
42.37
13.48
10.91
12.49
187.46
111.92
2010
50.15
44.36
13.73
11.30
12.56
202.17
113.27
2011*)
49.80
45.65
13.59
11.48
12.81
203.02
123.26
Pertumbuhan 2011 over 2010
-0.71
2.92
-0.99
1.60
2.05
0.42
8.82
Sumber          : Statistik Pertanian (diolah)
          *)           : Angka sementara 

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa luas panen pertanian tanaman pangan tidak menunjukan peningkatan yang signifikan, bahkan pada tahun 2011 mengalami penurunan dari tahun 2010 walaupun penurunannya tidak signifikan. Namun untuk komoditi tanaman kacang hijau mengalami peningkatan luas panen dari 258, 15 Ha pada tahun 2010 naik menjadi 297,12 Ha atau naik 15,10 %. Dari sisi penggunaan lahan untuk tanaman pertanian maka lahan paling luas adalah komoditi padi, jagung, ubi kayu, kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau dan ubi jalarar. Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa produktifitas tanaman paling tinggi adalah ubi jalar mencapai 8,82 % selanjutnya jagung 2, 9 %.

1.5.2.           Peternakan
Peternakan merupakan subsector yang penting dalam pertanian karean fungsinya sebagai sumber pangan asal hewani serta untuk peningkatan pendapatan para petani/ peternak. Peternakan terdiri dari ternak ruminansia dan non ruminansia, yang termasuk ternak rumniansia adalah sapi, kerbau, kambing dan domba sedangkan ternak non ruminasia adalah unggas, kuda dan babi.

  
Tabel 4. Produksi daging, telur dan sapi pada tahun 2007-2011
Tahun
Komoditi
Daging
Telur
Susu
2007
2,069,520
1,382,140
567,680
2008
2,136,720
1,323,600
646,950
2009
2,204,290
1,306,870
827,250
2010
2,365,670
1,366,200
909,530
2011*)
2,468,220
1,432,190
925,780
Pertumbuhan 2011 over 2010
4.33
4.83
1.79
Sumber          : Statistik Pertanian (diolah)
          *)           : Angka sementara 

Dari tabel 4 terlihat terjadi peningkatan produksi daging (semua daging ternak), telur (semua telur ayam dan itik) dan susu dari tahun ketahun. Peningkatan produksi produk peternakan pada tahun 2011 seperti daging mencapai 4,33% , telur 4,83 % dan susu 1,79 %.  Walaupun peningkatannya tidak signifikan tapi ini menunjukan bahwa permintaan terhadap produk peternakan terus meningkat seiring dengan meningkatanya pendapatanan masyarakat dan kesadaran masyarakat untuk mengkonsusmsi protein asal hewani semakin tinggi. Hal ini berarti masih memberikan peluang untuk pengembangan atau melakukan kegiatan budidaya peternakan diamsa yang akan datang.

Tabel 5. Perkembangan populasi beberapa ternak, pad atahun 2007-2011
Tahun
Komoditi
sapi
kerbau
sapi perah
ayam petelur
ayam pedaging
2007
       11,514,871
     2,085,779
     374,067
111,488,878
             891,659,345
2008
       12,256,604
     1,930,716
     457,577
107,955,170
             902,052,418
2009
       12,759,838
     1,932,927
     474,701
111,417,637
         1,026,378,580
2010
       13,581,570
     1,999,604
     488,448
105,210,062
             986,871,712
2011*)
       14,824,007
     1,305,011
     597,129
110,300,428
         1,041,968,246
Pertumbuhan 2011 over 2010
                    9.15
           (34.74)
          22.25
                    4.84
                            5.58
Sumber          : Statistik Pertanian (diolah)
          *)           : Angka sementara 

Dari tabel 5 terlihat bahwa rata-rata populasi ternak menunjukan peningkatan setiap tahunnya, namun yang mengalami penurunan di tahun 2011 adalah populasi kerbau turun sebesar 34,7 % dari tahun 2010. Peningkatan populasi tentu didorong oleh berbagai faktor baik faktor sumber daya peternakan, permintaan dan bibit yang unggul.

1.5.3.           Perkebunan
Sub sector perkebunan merupakan komoditas ekspor terbesar Indonesia dan memberikan pendapatan yang besar jug bagi devisa negara diantara sub sector pertanian laiinnya. Kegiatan budidaya perkebunan sudah mengalami perkembangan yang pesat dengan dukungan teknologi. Beberapa komoditas perkebunan di Indonesia adalah sawit, karet, kakao, kopi, kelapa, lada, pinang, atsiri dan rempah-rempah lainnya.
Tabel 6. Produksi beberapa komoditi perkebunan tahun 2007-2011
Tahun
Komoditi
Sawit
Karet
Kakao
Kopi
Lada
2005
   11,861,615
     2,270,891
   748,828
         640,365
     78,328
2006
   17,350,848
     2,637,231
   769,386
         682,158
     77,534
2007
   17,664,725
     2,755,172
   740,006
         676,475
     74,131
2008
   17,539,788
     2,751,286
   803,593
         698,016
        8,042
2009
   19,324,293
     2,440,347
   809,583
         682,591
     82,834
2010
   21,958,120
     2,734,854
   837,918
         686,921
   179,318
2011*
   22,508,011
     3,088,427
   712,231
         633,991
     77,808
Pertumbuhan 2011 over 2010
2.5
12.9
        -15.0
-7.7
-56.6
Sumber          : Statistik Pertanian (diolah)
          *)           : Angka sementara 

            Dari tabel 6 terlihat bahwa komoditi perkebunan sawit dan karet mengalami peningkatan dari tahun ketanun, pada tahun 2011 sudah mencapai 22,5 juta ton, dan Indonesia merupakan produsen sawit terbesar didunia. Untuk komoditi karet tercatat pada tahun 2011 mencapai 3,08 juta ton dan Indonesia merupakan produsen nomor dua terbesar di dunia. Komoditi kakao yang juga merupakan komoditi unggulan perkebunan Indonesia produksi tahun 2011 turun sebesar 15 % dari tahun 2010. Kegiatan budidaya perkebunan sudah memberikan dampak yang tinggi terhadap peningkatan pendapatan petani, sumber devisa dan penyedia lapangan pekerjaan.

Tabel 7. Luas lahan beberapa komoditas perkebunan tahun 2007-2011
Tahun
Komoditi
Sawit
Karet
Kakao
Kopi
Lada
2005
       5, 453,817
     3,279,391
   1,167,046
     1,255,272
   191,992
2006
     6,594,914
     3,346,427
   1,320,820
     1,308,732
   192,604
2007
     6,766,836
     3,413,717
   1,379,279
     1,295,912
   189,054
2008
     7,363,847
     3,424,217
   1,425,216
     1,295,111
   183,082
2009
     7,873,294
     3,435,270
   1,587,136
     1,266,235
   185,941
2010
     8,385,394
     3,445,415
   1,650,621
     1,210,365
   186,296
2011*
     8,908,399
     3,456,127
   1,677,254
     1,292,965
   179,038
Pertumbuhan 2011 over 2010
                  6.2
                  0.3
                1.6
                  6.8
          (3.9)
Sumber          : Statistik Pertanian (diolah)
          *)           : Angka sementara 

            Dari tabel 7 bahwasanya luas lahan yang paling luas adalah komoditas sawit pada tahun 2011 mencapai 8,9 juta Ha selanjutnya lahan karet 3,4 juta Ha, kakao 1,6 juta Ha, lada 1,3 juta Ha, namun untuk komoditi lada mengalami penurunan setiap tahun, pada tahun 2011 turun 3,9% atau luas lahannya 179,03 ribu Ha. Komoditi perkebunan semunya merupakan komoditas ekspor.

1.5.4.           Hortikultura
Tanaman hortikultura terdiri dari tanaman sayuran, buah-buahan, florikutura dan biofarmaka. Indonesia memiliki berbagai ragam tanaman sayuran dan buah-buahan serta florikultura sesuai dengan iklim tropis.
Tabel 8. Produksi beberapa tanaman hortikultura tahun 2007-2011
Tahun
Komoditi
Bawang merah
Cabe besar
cabe rawit
2007
               802,810
             676,828
            451,965
2008
               853,615
             695,707
            457,353
2009
               965,164
             787,433
            591,294
2010
           1,048,934
             807,160
            521,704
2011*
               877,244
             857,191
            583,023
Pertumbuhan 2011 over 2010
                   (16.4)
                       6.2
                   11.8
Sumber          : Statistik Pertanian (diolah)
          *)           : Angka sementara 

Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa produksi bawang merah mengalami peurunn yang sangat signifikan pada tahun 2011 samapai 16,4 % sedangkan untuk komoditi cabai mengalami peningkatan, walaupun peningkatanya tidak signifikan.

1.6.  Faktor-faktor Pendukung Kegiatan Budidaya Pertanian

1.6.1.   Lingkungan budidaya pertanian
Faktor-faktor lingkungan yang perlu diperhatikan dalam menjalankan kegiatan budidaya atau usaha pertanian, dapat dikelompokan yaitu, faktor lingkungan mikro dan faktor lingkungan makro. Faktor mikro dapat disebut sebagai faktor internal sedangkan faktor makro dapat disebut sebagai faktor eksternal. Penggabungan dari faktor internal dan eksternal tersebut diebut lingkungan usaha pertanian. Tujuh faktor makro yang berpengaruh dalam melaukan budidaya pertanian adalah mencakup faktor klimatik, edafik, biotic, teknologi, ekonomi financial, social budaya, dan kebijakan pemerintah.
Iklim/klimatik sangat menetukan komoditas yang akan diusahakan baik untuk tanaman maupun peternakan. Komoditas yang diusahakan harus cocok dengan iklim setempat agar produktivitasnya tinggi dan memberikan manfaat yang lebih baik bagi manusia. Iklim juga berpengaruh terhadap cara mengushakan serta teknologi yang cocok dengan iklim tersebut. Faktor klimatik meliputi curah hujan, suhu udara, kelembapan udara, radiasi sinar matahari dan kecepatan angin.
Curah hujan, menjadi faktor yang sangat penting dalam pertanian dan peternakan dalam hal mengairi persawahan maupun untuk penyediaan air minum ternak dan pengadaan makanan ternak sepanjang tahun. Berkaitan dengan hal tersebut perlu untuk mempelajari peta curah hujan untuk mengetahui jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah sepanjang tahun.

1.6.2.   Faktor Tanah/ lahan
Tanah sebagai sebagai faktor alam juga menentukan dalam usaha pertanian. Ada tanah pasir yang sanagat porous, ada tanah kuarsa yang berbutir halus, tanah liat yang susah penggarapannya pada waktu kering karena keras, ada tanah yang gembur dan subur sehingga sanagat menguntungkan. Sebagian besar tanah Indonesia adalan tanah yang subur dan sanagat baik untuk digunakan sebagai lahan pertanian.
Tabel . Luas lahan pertanian tahun 2005-2009
Tahun
Sawah non irigasi
Sawah irigasi
Tegalan/Kebun
Ladang/ Huma
Total luas lahan pertanian
2005
3,090,084
4,672,997
11,498,226
5,214,967
24,476,274
2006
3,138,054
4,679,291
11,513,336
5,102,680
24,433,361
2007
3,142,112
4,754,842
12,004,535
5,202,308
25,103,797
2008
3,173,249
4,841,584
11,853,848
5,324,282
25,192,963
2009
3,162,965
4,898,822
12,281,190
5,453,364
25,796,341
Sumber : Kementerian Pertanian
Dari tabel diatas terlihat luas lahan petanian mengalami peningkatan walaupun tidak terlalau signifikan, lahan pertanian yang bertambah tersebut adalah untuk sector perkebunan dan plawija. Pada tahun 2009 lahan untuk perkebunan mencapai 12,281 juta Ha, sedangkan un tuk lahan swah  tidak ada peningkatan bahkan cenderung mengalami penurunan. Komposisi lahan pertanian dapat dilihat pada diagram berikut :



                         





Diagram persentase lahan pertanian di Indonesia.

1.6.3.   Tenaga Kerja
Tenaga kerja dalam hal ini petani merupakan faktor penting dalam proses produksi komoditas pertanian. Tenaga kerja harus mempunyai kualitas berpikir yang maju untuk dapat mengadopsi inovasi-inovasi baru, tertama dalam pencapaian teknologi untuk melakukan buduaya yang baik sehingga produktivitasnya akan tinggi.
Tenaga kerja kerja berumur 15 tahun keatas yang bekerja pada sector pertanian pada tahun 2008 mencapai 41,331,706 orang pada tahun 2009 mencapai  41,611,840 orang sedangkan tahun 2010 mengalami penurunan dengan jumlah 41,494,941 orang separoh dari angkatan kerja di Indoesia. Hal ini melihatkan banyaknya tenaga kerja pada subsektor pertanian terutama di pedesaan.
Jika dilihat secara system agribisnis, maka tenaga kerja yang terlibat dalam agribisnis akan menjadi lebih tinggi baik yang bekerja di sector hulu, sector jasa dan lain-lain. Sampai saat ini tenaga kerja dalam sitem agribisnis masih terbesar pada subsistem budidaya pertanian, hal ini disebakan oleh masih rendahnya tingkat pendidikan para petani.

1.7.  Arah Pengembangan Kegiatan Budidaya Pertanian
Mengingat peran penting pertanian dalam perekonomian bangsa Indonesia telah menjadikan pertanian termasuk sebagai prioritas untuk tetap dikembangakan, karena sektor pertanian akan berkaitan dengan ketersediaan pangan dan tenaga kerja. Untuk itu beberapa hal yang menjadi perhatian dalam  pengembangan pertanian kedepan khusus untuk subsistem budidaya pertanian adalah dengan beberapa hal diantaranya melaui Intensifikasi pertanian, ekstensifikasi pertanian, diversifikasi pertanian, peningkatan teknologi, dan penelitian dan pengembangan.
Intensifikasi dan diversifikasi pertanian perlu dilakukan di daearah pada penduduk yang tidak bisa lagi dilakukan ektensifikasi seperti pulau Jawa, sedangkan untuk pulau diluar pulau Jawa masih memungkinkan untuk kegiatan ektensifikasi. Disamping intensifikasi, ektensifikasi dan diversifikasi perlu pengembangan bidang penelitian dan pengembagan mekanisasi pertanian.


II.    KESIMPULAN DAN SARAN

2.1.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah :
1.        Keterkaitan dari berbagai subsistem dalam agribisnis akan membentuk system agribisnis yang saling membutuhkan atara yang satu dengan yang laiinya.
2.        Kegiatan budidaya (on farm) merupakan kegiatan yang utama dalam system agribisnis, walaupun secara pendapatan ekonomi lebih kecil dibandingkan dengan kegiatan di subsistem hillir.
3.        Indonesia sebagai negara beriklim tropis memiliki potensi besar untuk mengembangkan pertanian baik untuk pertnian, perkebunan dan petenakan.

2.2.    Saran
Saran dari makalah ini adalah untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani melalui kegiatan budidaya pertanian maka program yang dilakukan adalah Intensifikasi pertanian , ekstensifikasi pertanian, diversifikasi pertanian, peningkatan teknologi, penelitian dan pengembangan.




DAFTAR PUSTAKA

Abdul Adjid. D, 1998. Bunga Rampai Agribisnis, kebangkitan, kemandirian dan keberdayaan masyarakat pedesaan menuju abad 21. Surat Kabar Sinar Tani, Jakarta

Hafsah. J, 2009. Membangun Pertanian. Pusataka Sinar harapan, Jakarta

Krisnamurti. B, dkk. 2010, Refleksi Agribisnis, IPB Press. Bogor

Pakpahan. A, 2009, Pertanian Masa Depan Kita, Gibon Books. Jakarta

Rahim. A, 2007. Pengantar, teori dan kasus. Ekomomika Pertanian, Penebar Swadaya, Jakarta

Sholahudin. S, 2009. Pertanian Harapan Masadepan Bangsa, IPB Press. Bogor

Sukardono, 2009, Ekonomi Agribisnis Peternakan, Akapress. Jakarta

Suratiyah. K, 2009. Ilmu Usaha Tani, Penebar Swadaya, Jakarta

Suryana. A, dkk. 1995. Diversifikasi Pertanian, Pusataka Sinar harapan, Jakarta

Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementerian Pertanian


“NEGARA KAYA TERNAK TIDAK AKAN PERNAH MISKIN”

Sejak dilakukan domestikasi  ( m enjinakan) hewan buruan oleh manusia, yang pada awalnya hanya untuk kebutuhan pangan keluarga sehari-hari, ...