Kamis, 29 Agustus 2019

‘DENGAN AYAM ENTASKAN KEMISKINAN’


Pengentasan kemiskinan menjadi konsen negara diseluruh dunia, karena kemiskinan akan berimplikasi pada kesehatan, pendidikan dan kemajuan suatu bangasa. Berbagai upaya dilakukan untuk pemberantasan kemiskinan terutama di negara-negara berkembang dengan angka kemiskinan masih tinggi. Seperti yang dilakukan Bill Gates, setelah melakukan perjalanan di negara-negara berkembang dan masuk ke daerah-daerah masikin, ia mempelajari banyak hal dan mengambil kesimpulan bahwa kemiskinan bisa dikurangi dengan ‘ayam’ karena ayam sangat gampang untuk dipelihara, cepat berkembang dan sudah menyatu dalam kehidupan sosioekonomi masyarakat terutama diperdesaan. Meyakini idenya, pendiri microsof tersebut membagikan anak ayam 100 ribu ekor untuk mengurangi kemiskinan di Afrika Selatan pada tahun 2016, program tersebut mendapat banyak pujian dari berbagai pihak.

Terinspirasi dengan program penanggulangan kemiskinan oleh Bill Gates, Perdana Menteri terpilih Pakistan Imran Khan, mengumumkan program 100 hari pertamanya di tahun 2016, akan fokus mengurangi angka kemiskinan di negerinya dengan memberikan ayam kepada ibu-ibu rumah tangga miskin. Dengan memberikan ayam maka akan dapat meningkatkan ekonominya dan meperbaiki gizi anak-anaknya. Namun demikian program tersebut banyak mendapat kritikan dimedia sosial terutama dari oposisi, bagaimana mungkin memberantas kemiskinan dari ayam. Berbagai kritikan yang mengemuka misalnya kapan waktu bagi keluarga miskin untuk memelihara ayam, apakah mereka terampil dalam memelihara, akan terjadi over supply terhadap ayam dan telur sehingga bagaimana pasarnya, sejauh mana akses orang miskin terhadap pasar.

Berbagai kritikan tersebut diabaikan oleh Imran Khan, bahkan ia menjawab kenapa ketika ide itu muncul dari orang dalam negeri menjadi bahan ejekan, namun jika ide itu muncul dari orang luar akan dihargai dan dipuji-puji, seperti Bill Gates membagikan ayam bagi orang miskin di Afrika mendapat banyak pujian. Imran Khan meyakini programnya tersebut dapat mengurngi kemiskinan dan meningkatkan gizi masyarakat di Pakistan, kritakan-kritikan tersebut diabaikannya sehingga programnya dijuluki dengan ‘eggonomic’.

Program pengentasan kemiskinan melalui peternakan ayam kamung, akan mendorong untuk pertumbuhan industri perunggasan dan peningkatan konssumsi protein hewani masyarakat. Ayam kampung sudah memberikan kontribusi terhadap pendapatan masyarakat dipedesaan, jika kondisi tersebut dioptimalkan dan dilembagakan tentu akan memberikan dampak yang lebih besar lagi untuk pertumbuhan ekonomi terutama diperdesaan.

Pata tahun 2018 Mententeri Pertanian RI juga melakukan program pemberantasan akangka kemiskinan melalui kegiatan pertanian salah satunya dengan peternakan unggas lokal dikenal dengan program ‘bekerja’ (berantas kemiskinan rakyat sejahtera). Melalaui program ‘bekerja’ diberikan bibit ternak unggas dan bantuan pakan kepada rumah tangga petani miskin dalam satu periode, dan selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan Peternakan ayam secara mandiri.

Program pemberantasan kemiskinan tentu tugas mulia, namun alangkah baiknya diringi dengan pendampingan teknologi, pengembangan SDM, pendampingan manajemen usaha dan akses pemasaran sehingga dapat berhasil dengan baik dan berkelanjutan. (Al Hendri)

Rabu, 03 Oktober 2018

UPSUS SIWAB UNTUK KETAHANAN PANGAN DAN KESEJAHTERAAN PETERNAK



Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan ketahanan nasional untuk mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani/ peternak. Ketersediaan pangan asal hewan termasuk daging sapi yang mudah diakses dari sisi produksi dan harganya sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan konsumsi protein masyarakat terutama bagi usia pertumbuhan. Peningkatan konsumsi protein bagi anak usia pertumbuhan merupakan salah satu upaya untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang kuat, cerdas dan inovatif dalam menyonsong era globalisasi yang mengedepankan efisiensi dan daya saing dalam segala bidang.
Pada sisi lain usaha peternakan khususnya peternakan sapi potong dan kerbau sebagian besar diusahakan oleh petani dalam skala kecil sebagai usaha sambilan atau disebut dengan peternakan rakyat. Walapun sistem peternakan rakyat sebagai usaha integrasi dalam sistem usaha tani di pedesaan (diversifikasi pertanian), namun telah mampu menjadi penopang sebahagian besar kebutuhan daging nasional. Dengan banyaknya peternak yang terlibat pada usaha peternakan, diharapkan kondisi tersebut dapat meningkatkan dan menumbuhkan ekonomi kerakyatan terutama di pedesaan. Perkembangan sektor peternakan juga akan mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi hulu dalam penyediaan input produksi dan ekonomi hilir dalam kegiatan distribusi, pemasaran, pengolahan hasil dan jasa keuangan. Oleh karena itu pembanagunan peternakan sebaiknya diarahkan dalam satu sistem agribisnis yang holistic terintegrasi dari hulu sampai hilir yang bersinergis dengan usaha pertanian lainnya (diversifikasi pertanian) sehingga lebih efisen.
Pertumbuhan populasi ternak sapi dan peningkatan produksi daging menjadi hal utama untuk memenuhi kebutuhan daging nasional yang mudah diakses oleh konsumen baik kualitas maupun kuantitasnya. Disamping itu permintaan terhadap daging sapi diyakini akan mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, tingginya kesadaran untuk mengkonsumsi pangan bergizi tinggi dan berkembangnya industri kuliner yang menyajikan bahan baku berbasis daging sapi. Tingginya permintaan daging sapi harus diimbangi dengan pertumbuhan populasi dan produksi daging sapi dalam negeri, sehigga kebutuhan daging dalam negeri dapat dipenuhi dari hasil peternakan sendiri terutama peternakan rakyat dan impor secara bertahap dapat dikurangi. Kebutuhan daging nasional belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri karena pertumbuhan populasi sapi dalam negeri masih lambat atau belum optimal.
Lambatnya pertumbuhan populasi sapi dalam negeri secara umum disebabakan oleh belum optimalnya manajemen reproduksi ternak sapi ditingkat peternak dan adanya gejala penurunan peforma ternak yang berdampak terhadap penurunan produksi daging. Manajemen reproduksi yang tidak optimal berimplikasi pada, banyaknya kejadian IB berulang atau sevice per conseption masih tinggi rata-rata 2-3 sehingga jarak beranak menjadi lebih panjang dari normalnya. Selain itu masih banyak terjadi perkawinan sedarah (inbreeding) terutama di daerah dengan pemeliharaan ternak secara ektensif yang berpengaruh terhadap rendahnya mutu genetik yang akan berdampak pada rendahnya produktivitas ternak. Belum optimalnya manajemen reproduksi sapi potong meyebabkan kerugian bagi peternak baik secara materi maupun immaterial. Peternakan akan membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu kelahiran anak atau pertumbuhan anak sapi yang tidak optimal tidak sesuai dengan yang semestinya.
Mencermati hal tersebut dalam upaya percepatan peningkatan populasi sapi, pemerintah menjalankan Upaya khusus sapi indukan/kerbau wajib bunting (Upsus Siwab) yang diamanatkan dalam Permentan Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016. Melalui program upsus siwab diharapkan dapat  memperbaiki sistem pelayanan peternakan kepada masyarakat, perbaikan manajemen reproduksi dan produksi ternak  serta perbaikan sistem pelaporan dan pendataan reproduksi ternak melalui sistem aplikasi iSIKHNAS. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan Upsus Siwab, maka pelaksanaannya dilakukan secara teritegrasi dengan kegiatan pendukung lainnya yaitu pendistribusian semen beku dan N2 cair, penanggulangan gangguan reproduksi, penyelamatan pemotongan betina produktif dan penguatan pakan.
Upsus Siwab merupakan program nasional untuk ketahana pangan yang harus dijalankan oleh seluruh instansi pemerintah terkait pusat maupun daerah untuk menterjemahkan, merumuskan dan mengimplementasikan strategi dan upaya untuk mensukseskan program tersebut. Dalam upaya pelaksanaan Upsus Siwab maka ditetapkan Penanggungjawab Supervisi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang mendampingi pelaksanaan kegiatan di daerah. Koordinasi antar instansi, antar penangungjawab supervisi, antar dinas, antar bidang  diperlukan untuk bekerjasama, bersinergi dalam menjalankan program upsus siwab sehingga timbul harmonisasi pemahaman untuk besama-sama membangun dan mensejahterakan peternak agar berdaya saing.
Berbagai upaya dilakukan untuk menjalankan program upsus siwab dengan baik, mulai dengan perbaikan pelayanan kepada masyarakat, pengembangan SDM tenaga reproduksi ternak, perbaikan sarana dan prasarana pendukung, melakukan sosialisasi serta perbaikan sistem pelaporan melalui Isikhnas. Dihrapkan pelaksanaan Upsus Siwab berjalan dengan baik, sehingga dapat memperbaiki sistem reproduksi ternak yang berdapmpak terhadap kesejahteraan peternak dan peningatan produktiivitas ternak sapi Dallam negeri untuk mewujudkan swasembada pangan. (Al Hendri)

Minggu, 27 Mei 2018

KEMITRAAN PETERNAKAN DOMBA MENUJU PASAR EKSPOR

Jatuh bangun dalam usaha agribisnis peternakan sudah menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Agus Solehul Huda, salah seorang pengusaha peternakan domba di kabupaten Jember Jawa Timur. Namun, dengan kesabaran dan keihlasannya untuk tetap menekuni agribisnis peternakan domba, kini usahanya mulai berkembang dan memberikan hasil yang memuaskan bahkan akhir bulai Mei 2018 ini, akan mengekspor domba ke Malaysia bekerjasama denga PT. Inkopmar Cahaya Buana sebagai eksportir. 

Pihak importir Malaysia sudah melakukan kunjungan ke peternakan Globasindo Multifarm milik Agus untuk melihat lagsung kondisi dan ketersediaan ternak domba. Dalam kunjugan tersebut Malaysia meminta 20.000 ekor domba/tahun, baru dapat dipenuhi sebesar 10.000 ekor dengan pengiriman 2.500 ekor per dua bulan dengan selama 3 tahun dalam kontrak awal. 

Selain ke Malaysia pasar ekspor juga terbuka ke Brunai Darussalam yang meminta domba sebanyak 6.250 ekor per bulan dalam bentuk karkas. Namun permintaan tersebut belum bisa dipenuhi karena adanya persyaratan HCCP dari negara tersebut dan belum ada RPH khusus pemotongan ternak domba. 

Dengan terbukanya pasar ekspor ini akan dapat memberikan nilai tambah dan daya saing bagi peternakan dalam negeri khusunya Kabupaten Jember yang selama ini masih pemasaran lokal antar provinsi. Namun demikian perlu untuk menjamin ketersediaan supply ternak domba sehingga kegiatan ekspor bisa berjalan kontinyu. 

Sarjana peternakan UGM yang pernah menjadi SMD ini, sudah memulai peternakan domba dari tahun 2010, ia mengembangkan usaha tersebut dengan sistem kemitraan yang melibatkan peternak di sekitar tempat tinggalnya di Desa Wonosari Kecamatan Gulukmas Kabupaten Jember yang dikelola oleh UD. Globasindo Multifarm. Jumlah peternak mitranya saat ini 75 orang dengan total kapasitas kandang 3.500 ekor. Pola kemitraan yang dikembangkan adalah peternak membeli bakalan dan pakan dari Globasindo Multifarm dengan harga yang sudah disepakati bersama pada saat pembelian. Peternak membeli bakalan umur 10 bulan dengan harga Rp 36.000/kg secara ditimbang. Peternak akan melakukan penggemukan selama 35 hari dengan rata rata kenaikan bobot badan 5 kg. Selanjutnya peternak akan menjual kembali ke Globasindo Multifarm secara ditimbang dengan harga yang sama pada waktu pembelian bakalan. 

Untuk meningkatkan produksi daging, Agus juga mengolah pakan sendiri, dengan memanfaatkan sumber bahan pakan yang ada disekitarnya dalam bentuk konsentrat, dengan produksi 3 ton per hari. Pakan dijual ke peternak seharga Rp 2.800/Kg dengan FCR 7. Dengan penggunaan pakan tersebut, peternak tidak perlu lagi untuk mencari hijauan sehingga biaya dan waktu pemeliharaan lebih efisien. 

Komitmen Agus dalam memgembangkan usaha peternakan untuk membangun perekonomian dan meningkatkan pendapatan peternak di daerahnya, menghantarkan beliau sudah dua kali mendapatkan penghargaan Adi Karya Pangan Nusantara di istana Kepresidenan pada tahun 2011 dalam kategori Pelaku Usaha Kemitraan Agrobisnis dan tahun 2012 dalam kategori Sarjana Membangun Desa. 

Namun demikinan, masih terdapat permaslaahan yang dihadapi oleh kemitraan Globasindo Multifarm untuk mengembangkan usahanya, diantaranya kesulitan bagi peternak mitra untuk mengembangan skala usaha karena keterbatasan modal dan sulit untuk mengakses pembiayaan dari lembaga perbankan. Selain belum ada peternakn yang khusus melakukan pembibitan ternak domba, sehingga pasokan bakalan masih didapatkan dari pasar hewan dan pengolahan pakan masih dilakukan secara manual. 

Surabaya, 24 Mei 2018 
Al Hendri

Rabu, 26 Oktober 2016

ANALISIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN DAGING SAPI DI INDONESIA






RINGKASAN
Konsumsi daging masyarakat Indonesia cenderung meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan perkapita dan pertumbuhan industri pengolahan pangan, kebutuhan tersebut sebagian bersumber dari daging sapi. Tingginya permintaan terhadap daging sapi harus diiringi dengan peningkatan populasi dan produksi daging sapi dalam negeri, jika tidak dilakukan upaya-upaya tertentu dikhawatirkan dapat menguras populasi sapi dalam negeri sehingga impor sapi bakalan atau daging sapi menjadi meningkat.
Untuk memenuhi permintaan daging sapi dalam negeri pemerintah telah melakukan upaya peningkatan populasi sapi untuk meningkatan produksi daging dalam negeri untuk mewujudkan swasembada daging sapi dengan pengembangan pakan ternak, perbaikan mutu bibit melaui kegiatan inseminasi buatan (IB) dan pemberantasan penyakit. Sebagai upaya untuk mengatur penawaran sapi dan daging sapi telah dilakukan kebijakan pengaturan pengeluaran dan pemasukan sapi antar daerah serta pengaturan impor bakalan dan daging sapi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia dengan menganalisis faktor-faktor  yang mempengaruhi penawaran dan permintaan daging sapi serta dampak kebijakan pemerintah terhadap penawaran, permintaan, impor dan harga daging domestik.
Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder deret waktu yang bersumber dari publikasi berbagai instansi selama periode 1993-2012. Analisis data menggunakan pendekatan ekonomertika dengan model persamaan simultan. Model terdiri dari dua sektor, yaitu sektor penawaran daging sapi dan sektor permintaan daging sapi di Indonesia. Model ekonometrika diduga dengan metode Two Stage Least Square (2SLS), Setelah divalidasi, model disimulasi dengan alternatif kebijakan, yaitu : peningkatan teknologi inseminasi buatan, peningkatan harga sapi ditingkat peternak, penurunan suku bunga dan devaluasi nilai rupiah.
Hasil penelitian menunjukan bahwa populasi ternak sapi dipengaruhi oleh harga daging sapi, teknologi inseminasi buatan, harga sapi, suku bunga dan lag populasi sapi. Populasi sapi responsif terhadap seluruh peubah tersebut. Hal ini menunjukan perlu optimalisasi kebijakan pemerintah terhadap peningkatan populasi ternak untuk meningkatkan penawaran produksi daging sapi.
Produksi daging dipengaruhi oleh populasi sapi, curah hujan dan harga daging sapi dalam negeri. Produksi daging sapi responsif terhadap seluruh peubah tersebut. Perlu kebijakan teknologi reproduksi dan pengolahan pakan untuk meningkatkan produksi daging.
Permintaan daging sapi dipengaruhi oleh harga riil daging domestik, harga riil daging ayam, harga riil telur ayam, Harga riil tempe dan pendapatan perkapita. Dalam jangka pendek dan jangka panjang permintaan daging responsif terhadap harga riil daging ayam dan harga riil tempe serta permintaan daging juga responsif dalam jangka panjang terhadap pendapatan perkapita. Namun permintaan daging sapi tidak responsif terhadap harga riil daging sapi, harga riil telur dan jumlah penduduk. Untuk itu perlu kebijakan harga daging sapi yang dapat di akses oleh seluruh masyarakat Indonesia sebagai sumber protein hewani.
Harga daging domestik dipengaruhi oleh penawaran daging sapi, permintaan daging dan impor daging sapi. Harga daging domestik responsif terhadap penawaran dan permintaan daging baik dalam jangka pendek mupun dalam jangka panjang. Namun harga daging domestik tidak responsif terhadap impor daging sapi. Perlu peran pemerintah untuk pengaturan penawaran daging sapi yang akan mempengaruhi harga daging sapi domestik.
Impor daging sapi dipengaruhi oleh harga daging domestik, permintaan daging sapi, harga riil daging impor, tariff impor dan kurs rupiah. Impor daging sapi responsif terhadap harga riil daging domestik, permintaan daging, harga riil daging mpor, tariff impor dan kurs rupiah dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berkaitan dengan hal tersebut perlu kebijakan kuota dan peruntukan impor daging sapi agar tidak dipasarkan di pasar tradisional.
Hasil simulasi kebijakan historik menunjukan bahwa kebijakan devaluasi nilai tukar valuta asing, kebijakan penurunan suku bunga, peningkatan teknologi inseminasi buatan dan peningkatan pendapatan perkapita akan meningkatkan produksi daging dalam negeri dan harga daging domestik serta dapat mengurangi ketergantungan terhadap daging sapi impor. Namun pada kebijakan menaikan harga sapi ditingkat peternak akan dapat menurunkan populasi ternak akibat dari peternak akan mengurangi pemeliharaan sapi karena harga bakalan menjadi tinggi. Berkaitan dengan hal tersebut kebijakan menaikan harga sapi harus sejalan dengan kebijakan penurunan suku bunga dan kemudahan akses pembiayaan oleh peternak.
Untuk membentuk model yang lebih lengkap dari penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia perlu penelitian lebih lanjutan yang mencakup industri pengolahan daging dalam satu model struktural, Kebijakan penurunan tingkat suku bunga perlu ditunjang oleh penelitian lanjutan untuk melihat keterkaitan antara sektor riil dengan sektor moneter, sehingga kebijakan penurunan suku bunga tidak mengurangi minat masyarakat dalam pembentukan modal dan mengakibatkan perlarian modal keluar negeri.

PENDAHULUAN
Semakin tingginya tingkat pendidikan dan pendapatan perkapita telah merubah preferensi masyarakat yang cenderung untuk mengkonsumsi pangan  bergizi tinggi sebagai sumber protein dan kalori bagi tubuh. Salah satu bahan pangan yang bergizi tinggi adalah daging, secara nasional konsumsinya cenderung meningkat. Rata–rata konsumsi daging nasional adalah 6.8 Kg/kapita/tahun sebagian besar dipenuhi dari dagingg unggas yang mencapai 63 persen selanjutnya daging sapi mencapai 31 persen.
Namun demikian, rata-rata konsumai daging sapi terus meningkat tiap tahunnya.  Tahun 2011 meningkat sebesar 1.9 kg/kapita/tahun setara dengan permintaan daging sebesar 550,357 ton dan tahun 2012 menjadi 2.15 kg/kapita/tahun setara dengan 538,983 ton daging sapi segar, sedangkan ketersediaan daging dalam negeri sebesar 505,477 ton dan sisanya dipenuhi dari daging impor sebesar 33,506 ton. Belum dapat dipehuhinya permintaan daging sapi dari produksi daging dalam negeri, maka untuk memenuhi permintaan tersebut dilakukanlah impor sapi bakalan dan daging beku.
Impor daging sapi juga didorong oleh tuntutan konsumen terhadap kualitas daging dan harga daging impor yang lebih murah dibandingkan daging domestik. Dorongan tersebut akan semakin kuat dengan semakin terbukanya perdagangan antar negara. Secara agregat Indonesia merupakan net-importer produk-produk peternakan, akan tetapi impor daging sapi pada awalnya hanya untuk segmen pasar tertentu seperti hotel berbintang dan kedutaan asing, kini sudah memasuki supermarket dan pasar tradisional pada beberapa daerah konsumsi utama (Ilham, 1998). Jika tidak ada perubahan teknologi secara signifikan dalam proses produksi daging sapi dalam negeri serta tidak adanya peningkatan populasi sapi yang berarti, maka keseinjangan antara produksi daging sapi dalam negeri dengan jumlah permintaan akan semakin melebar, sehingga berdampak pada volume impor yang semakin besar (Hadi, et.al., 1999).
Impor daging sapi juga menyebabkan daya saing peternakan dalam negeri menjadi kurang bersaing karena harga daging impor lebih murah dan penampilannya lebih baik disebabkan oleh manajemen produksi yang lebih efisien, disamping adanya dumping price policy oleh negara pengekspor. Sedangkan di Indonesia, harga daging relatif mahal sebagai akibat dari belum efisiennya usaha peternakan dalam negeri, yang ditunjukan oleh tingginya biaya produksi dan biaya distribusi ternak dari daerah sentra produsen ke daerah konsumen. Kondisi demikian berdampak terhadap terhambatnya perkembangan peternakan dalam negeri yang masih bersifat tradisional dan diusahakan sebagai usaha sampingan dan masih rendahnya usaha peternakan dalam bentuk feedloter. Impor daging sapi juga akan menguras devisa, seperti pada tahun 2011 nilai impor daging mencapai 234 juta atau 2,056 triliun rupiah dan tahun 2012 turun menjadi US$ 139 juta US$ atau 1,3 triliun rupiah.
Berkaitan dengan hal tersebut untuk mencukupi kebutuhan daging dalam negeri dan dalam rangka meningkatkan daya saing peternakan dalam negeri pemerintah telah mencanagkan program swasembada daging sapi pada tahun 2014. Usaha-usaha untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak  ditempuh melalui penyediaan bibit ternak yang cukup dengan mutu yang baik, optimalisasi Inseminasi Buatan (IB) dan kawin alam, pengembangan teknologi pengolahan pakan, meningkatkan kelahiran dan menekan kematian anak sapi, revitalisasi Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dan pelarangan pemotongan sapi betina produktif,  pengembangan Sarjana Membangun Desa (SMD) dan pemberian kredit bersubsidi kepada peternak untuk pengembangan peternakan (Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2012).
Program swasembada daging sapi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi. Berbagai program yang telah dilaksanakan pemerintah tersebut diharapkan dapat meningkatkan populasi dan produksi daging sapi dalam negeri dan dapat memenuhi permintaan konsumen dalam negeri yang terus mengalami peningkatan. Faktor lain yang mempengaruhi produksi daging sapi adalah faktor edafik dan klimatik.
Upaya peningkatkan populasi sapi dalam negeri bertujuan untuk meningkatkan produksi daging dalam negeri sehingga dapat memenuhi permintaan daging sapi dalam negeri.  Meningkatya produksi daging sapi dalam negeri bertujuan untuk meningkatkan daya saing peternakan sapi potong dalam negeri melalui peningkatan efisiensi dan minimasisasi biaya produksi. Selanjutnya hal ini akan dapat meningkatkan kesejahteraan peternak yang 90 persen adalah rakyat.

PERUMUSAN MODEL DAN PROSEDUR ANALISIS

Perumusan Model
Model permintaan dan penawaran daging sapi di Indonesia dibentuk dalam dua bagian besar yaitu sisi penawaran dan sisi permintaan. Dari sisi penawaran daging sapi di Indonesia mempunyai hubungan dengan populasi ternak sapi dan populasi ternak sapi ditentukan oleh harga ternak sapi itu sendiri, suku bunga, musim serta dukungan program pemerintah. Sedangkan dari sisi permintaan daging sapi di Indonesia mempunyai hubungan dengan harga daging domestik, pendapatan masyarakat/konsumen, harga komoditas lain yang berhubungan dengan komoditas daging sapi, dan jumlah penduduk Indonesia.
Hubungan peubah-peubah dalam penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia tersebut dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini. Hubungan-hubungan tersebut akan diduga dengan model ekonometrika.

Model Ekonomertika Komoditi Daging Sapi
Model ekonometrika adalah suatu pola khusus dari model aljabar, yaitu suatu unsur yang sifatnya stochastic yang mencakup satu atau lebih peubah pengganggu (Intriligator, 1978). Sedangkan  model adalah suatu penjelasan dari fenomena aktual sebagai suatu sistem atau proses (Koutsoyiannis, 1997).



 

Gambar . Diagram keterkaitan penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia

Populasi Sapi Potong
Dari seluruh populasi sapi potong tidak semua akan dipotong untuk menghasilkan daging, berdasarkan kajian Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian RI (2011) bahwa rata-rata berat sapi nasional 345,82 kg dengan persentase karkas 50,84 persen. Upaya penggunaan  teknologi Inseminasi Buatan (IB) diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sapi potong di Indonesia. Disamping itu faktor lain yang mempengaruhi perkembangan usaha ternak sapi adalah permodalan yang akan terkait dengan suku bungan bank. Harga daging domestik juga dapat meransang atau memotifasi peternak untuk meningkatkan usaha peternakannya demikian juga dengan harga sapi itu sendiri, harga sapi yang cukup tinggi akan dapat memotifasi peternak untuk meningkatkan usahanya namun dengan harga yang tinggi peternk juga akan kekurangan modal untuk membeli sapi bakalan. Dengan demikian persamaan penawaran daging sapi dapat diasumsikan sebagai berikut :
PSP = a0 + a1IB + a2HS + a3HDD + a4SB + a5LPSP + u1……………………......(28)
dimana:
PSP     = Populasi sapi (ekor/tahun)
IB        = Teknologi produksi (000 dosis IB)
HS       = Harga sapi dibagi indek harga konsumen (Rp/Kg)
HDD   = Harga Daging Sapi Domestik dibagi indek harga konsumen (Rp/Kg)
SB       = Suku bunga (%)
LPSP   = Lag populasi Sapi potong (ekor)
u1        = Peubah pengganggu
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah sebagai berikut:
a3,  a4, < 0; a1, a2,  > 0; dan 0 < a5 < 1

Produksi daging Sapi Dalam Negeri
Produksi daging sapi dalam negeri akan sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi sapi dalam  negeri, curah hujan dan harga daging sapi. Produksi daging sapi sangat terkait dengan pakan yang berkualitas dan konsentrat sebagai sumber protein yang berfungsi untuk pembentukan daging. Pada peternakan untuk program penggemukan, biasanya akan menggunakan pakan kosentrat sedangkan pada peternak rakyat dengan skla kepemilikan 1-3 ekor jarang yang menggunakan pakan konsentrat. Curah hujan sangat mempengaruhi kualitas hijauan untuk pakan ternak yang sangat berpengaruh terhadap produksi daging. Harga daging sapi akan berpengaruh terhadap peningkatan produksi daging sapi, persamaan produksi daging sapi adalah sebagai berikut :
QDS    = b0 + b1PSP + b2CH + b3HDD + b4 LQDSt+  u2t ..................................(29)
dimana :
QDS    = Produksi daging domestik (ton/th)
PSP     = Populasi sapi (ekor/th)
HDD   = Harga Daging Domestik dibagi indek harga konsumen (Rp/kg)
CH      = Curah Hujan (000 mm)
LQDS  = Lag produksi daging sapi dalam negeri (ton)
u2        = Peubah pengganggu

Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah sebagai berikut :
b2 < 0 ; b1, b3 > 0 ; dan 0 < b4 < 0


Impor Daging Sapi
Secara teori impor dapat terjadi karena adanya signal harga yang memberikan insentif ekonomi bagi aktifitas perdagangan. Impor daging sapi mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat Indonesia, semakin bertumbuhnya pasar ritel modern dan hotel-hotel di kota-kota besar di Indonesia yang terangkum dalam permintaan daging sapi. Harga daging sapi dalam negeri juga diduga berpengaruh terhadap impor daging serta harga impor itu sendiri akan mempengaruhi impor. Dengan demikian impor daging sapi dapat dirumuskan dalam persamaan berikut :
IDS = c0 + c1HDD+ c2DDS + c3HI + c4TIt + c5KR + c6LIDS + u3t ………………(30)
dimana:
IDS     = Impor daging sapi Indonesia (ton)
HDD   = Harga Daging Domestik dibagi indek harga konsumen (Rp/Kg)
DDS    = Permintaan Daging Sapi (Ton/th)
HI        = Harga daging Impor dibagi indek harga konsumen Amerika (Rp/kg)
TI        = Tarif impor (%)
KR      = Kurs Rupiah (Rp/US$)
LQID  = Lag impor daging sapi Indonesia
U3       = Peubah pengganggu
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah sebagai berikut:
c3, c4  c5 < 0 ; c1, c2 > 0; dan 0 < c6 <1

Total Penawaran Daging Sapi Dalam Negeri
Penawaran daging sapi dalam negeri didefinisikan sebagai penjumlahan dari total produksi daging dalam negeri dengan total daging sapi impor. Istilah stock dalam perdagangan daging sapi realtif terbatas dan dalam waktu singkat karena biaya penyimpanan dengan cold strorage cukup mahal dan terbatas jumlahnya dan secra umum stok pada daging sapi dalam bentuk sapi hidup. Persaaam penawaran daging sapi dalam negeri sebagai berikut :
SDS = QSP + IDS …………………………………...…………………………… (31)
dimana:
SDS     = Total penawaran daging sapi dalam negeri (ton)
QDS    = Total produksi daging dalam negeri (ton)
IDS     = Impor daging sapi (ton)


Permintaan Daging Sapi Dalam Negeri
Permintaan terhadap suatu barang sangat dipengaruhi oleh harga barang itu sendiri dan harga barang subsitusinya. Selain itu juga dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan pendapatan. Harga komoditi lain yang akan dapat mempengaruhi permintaan daging sapi adalah harga daging ayam, harga telur dan harga tempe. Harga telur diperkirakan sebagai komoditi komplementer bagi daging sapi sedangkan daging ayam dan tempe diperkirakan sebagai komoditi subsitusi.Persamaan permintaan daging sapi dalam negeri dapat disimpulkan sebagai berikut :
DDS = d0 + d1HDD + d2HA + d3HE  + d4HT+ d5JP + d6PK +  d7 LQDS +u4t........(32)
dimana :
DDS    = Permintaan daging sapi dalam negeri (ton)
HDD   = Harga daging sapi domestik dibagi indek harga konsumen (Rp/kg)
HA      = Harga riil daging ayam dibagi indek harga konsumen (Rp/kg)
HE       = Harga riil teurl ayam dibagi indek harga konsumen (Rp/kg)
HT       = Harga rill tempe dibagi indek harga konsumen (Rp/kg)
JP        = Jumlah penduduk (000 jiwa)
PK       = Pendapatan per kapita (Rp000)
LQDS = Lag permintaan daging sapi dalam negeri (ton)
u4        = Peubah pengganggu
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah sebagai berikut:
d2, d3, d4 < 0; d1, d5, d6 > 0; dan 0 < d7 <1

Harga Daging Sapi Dalam Negeri
Harga komoditas dipasar ditentukan oleh total penawaran dan permintaan (Henderson dan Quandt, 1980). Model pasar yang demikian disebut dengan nilai equiblibrium, dimana harga terjadi pada saat permintaan sama dengan penawaran. Selain itu juga ada model disequilibrium, dimana harga merupakan peubah yang dipengaruhi oleh beberapa peubah lain  dalam bentuk persamaan struktural (Labys, 1975). Harga daging sapi diperkirakan dipengaruhi oleh penawaran daging sapi, penawaran daging impor dan permintaan daging sapi dalam negeri. Dengan equilibrium persamaan dirumuskan sebagai berikut :
HDD = e0 + e1 SDS + e2DDS + e3IDS+ e4LHDD + u5t …………………………..(33)
dimana :
HDD   = Harga daging domestik dibagi indek harga konsumen (Rp/kg)
SDS     = Penawaran daging sapi (ton)
DDS    = Permintaan daging sapi (ton)
IDS     = Impor daging sapi (ton)
LHDD= Lag harga daging sapi dalam negeri

Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah sebagai berikut:
e1, e2, e3 > 0; dan 0 < e4 < 1

Metode Pendugaan Model

Jika persamaam dalam model struktural semunya over identified, maka persamaan ini dapat diduga dengan metode LIML (Limited Information Maximum Likelihood), FIML (Full Information Maximum Likelihood), 2SLS (Two Stage Least Squares) atau 3SLS (Three Stage Least Squares) (Daris, 2002).  Tujuan penelitian harus disesuaikan dengan metoda di atas yaitu untuk mendapatkan koefisien persamaan struktural secara simultan. Pendugaan parameter secara simultan akan membantu simulasi kebijakan secara tepat dan efisien. Dalam studi ini metode yang akan digunakan adalah two Stage Least Squart (2SLS) atau Three Stage Least Squart (3SLS) sesuai dengan kebutuhan.

Sumber Data
Data yang diperlukan antara lain data mengenai perilaku penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia. Jenis data yang digunakan merupakan data sekunder deret waktu (time series) mulai dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2012.
Data time series bersumber dari Statistik Indonesia dengan berbagai penerbitan diantaranya : Badan Pusat Statistik; Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian RI; Kementerian Keuangan; Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Kementerian Perdagangan RI; Bank Indonesia dan berbagai literatur dari berbagai instansi yang relevan dengan penelitian ini.

Simulasi Kebijakan
Analisis simulasi kebijakan digunakan untuk menerangkan perilaku penawaran, permintaan dan harga daging sapi domestik terhadap perubahan kebijakan dan faktor-faktor eksternal dan dampaknya terhadap surplus produsen dan konsumen. Simulasi model historik yaitu simulasi  yang dilakukan dalam periode pengamatan tahun 1992 – 2012 yang diterapkan adalah sebagai berikut :
1.        Meningkatkan teknologi Inseminasi Buatan (IB) dengan peningkatan dosis IB sebesar 10 persen.
2.        Menurunkan suku bunga bank sebesar 5 persen.
3.        Menaikan harga sapi sebesar 10 persen.
4.        Kebijakan devaluasi tukar valuta asing sebesar 10 persen.
5.        Peningkatan pendapatan perkapita penduduk indonesia sebesar 5 persen.
6.        Menurunkan harga daging sapi domestik sebesar 15 persen.


HASIL PENDUGAAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Pendugaan Model
Model yang digunakan dalam studi ini adalah model liner persamaan simultan. Model ini diduga dengan metoda pangkat dua terkecil dua tahap (Two Stage Least Square = 2SLS), dan menggunakan data sekunder tahun 1993 - 2012. Untuk menguji apakah masing-masing peubah eksogen berpengaruh nyata secara statistik terhadap peubah endogen digunakan uji statistik t. Pengujian dengan menggunakan statistik t dalam studi ini, apabila nilai statistik ǀ t ǀ lebih besar dari satu, maka dianggap peubah eksogen secara statistik nyata mempengaruhi peubah endogen.
Untuk menguji apakah masing-masing peubah penjelas pada setiap persamaan berpengaruh nyata secara statistik terhadap peubah endogen, dilakukan uji t - statistik. Tabel 10 memperlihatkan nilai dan tanda kooefisien parameter dugaan nilai t- statistik, R2, F serta nilai DW dan Dh. Peubah yang mempunyai pengaruh berbeda nyata dengan nol pada taraf 5 persen, 10 persen, 20 persen, 25 persen, 50 persen dan besar dari 50 persen ditandai masing-masing dengan huruf : A, B, C, D, E dan F. Parameter dugaan yang tidak diberi tanda berarti tidak memberikan pengaruh yang nyata.
Hasil pendugaan model menunjukan bahwa nilai statistik  DW berkisar antara 1.64 sampai 2.29 dan statisitk durbin h berkisar antara -0.08 sampai 1.93. Dengan demikian ada persamaan yang mengalami serial korelasi, dimana serial korelasi hanya mengurangi efisiensi pendugaan dan tidak menimbulkan bias koefisien regresi (Pindyck and Rubinfeld, 1991). Hasil pendugaan model persamaan simultan dari penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia adalah sebagai berikut :
Tabel 10. Hasil pendugaan parameter dan uji statistik Model Penawaran dan Permintaan Daging Sapi di Indonesia, periode 1993-2012.
Persamaan/ peubah
Notasi
Parameter
 dugaan
R2
DW
Dh
1.   Populasi Sapi Potong
-    Intersep
-    Harga Sapi
-    Inseminasi Buatan
-    Suku Bunga
-    Harga Daging Domestik
-    Lag Populasi Sapi potong
PSP
-
HS
IB
SB
HDD
LPSP

2.743480
-0.00449
0.469249 (A)
-0.00235
0.001926
0.682198 (A)
0.92
2.29
-1.15

2.   Produksi Daging Sapi Domestik
-    Intersep
-    Populasi Sapi
-    Harga Daging Domestik
-    Curah Hujan
-    Lag Produksi Daging Domestik
QDS
-
PSP
HDD
CH
LHDD

65.32599
21.28174 (D)
0.039111
0.031934
0.158989
0.45
1.76
1.00

3.   Permintaan Daging Sapi
-    Intersep
-    Harga Daging Domestik
-    Harga Daging Ayam
-    Harga Telur Ayam
-    Jumlah Penduduk
-    Pendapatan Perkapita
-    Harga Tempe
-    Lag Permintaan Daging Sapi
DDS
-
HDD
HA
HE
JP
PK
HT
LDDS

434.1624
-0.71823 (F)
2.360038 (F)
-0.87640 (E)
-1.32094
6.054195
0.452930
0.466530 (E)
0.59
2.17
-0.63

4.   Harga Daging Domestik
-    Intersep
-    Penawaran Daging
-    Permintaan Daging
-    Impor Daging Sapi
-    Lag Harga Daging Domestik
HDD
-
SDS
DDS
IDS
LHDD

-124.450
-8.16863
8.667023
-0.558507
0.730119 (A)
0.80
1.97
0.08
5.   Impor Daging Sapi
-    Intersep
-    Harga Daging Domestik
-    Permintaan Daging Sapi
-    Harga Daging Sapi Impor
-    Tarif Impor Daging
-    Kurs Rupiah
-    Lag Impor Daging Sapi
IDS
-
HDD
DDS
HI
TI
KR
LIDS

-3.95295
0.332062 (A)
0.116966 (F)
-26.8609 (A)
0.429133
-5.17938 (D)
0.541063 (C)
0.78
1.64
1.94

 Keterangan :    A = Berbeda nyata pada taraf 5 persen
                         B = Berbeda nyata pada taraf 10 persen
                         C = Berbeda nyata pada taraf 20 persen
                         D = Berbeda nyata pada taraf 25 persen
                         E = Berbeda nyata pada taraf 50 persen
                                    F = Berbeda nyata pada taraf > 50 persen

Secara umum koefisien determinasi R2 cukup tinggi kecuali pada persamaan Produksi daging sapi sebesar 0.46 dan persamaan permintaan daging sapi sebesar 0.59, sedangkan yang lain berkisar 0.78 sampai 0.92. Sedangkan nilai statisitk F mempunyai nilai 2.03 sampai 45.25, dengan demikian koefisien R2 untuk masing-masing persamaan menunjukan bahwa variasi peubah endogen dapat dijelaskan dengan baik oleh variasi peubah-peubah penjelas (explanatory variabeles).
Tabel 11. Elastisitas jangka pendek dan jangka panjang peubah-peubah yang terdapat 
                dalam model penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia.
Persamaan/ peubah
Notasi
Parameter dugaan
Elastisitas
Jangak Pendek
Jangka Panjang
1.   Populasi Sapi Potong
-    Harga Sapi
-    Inseminasi Buatan
-    Suku Bunga
-    Harga Daging Domestik
PSP
HS
IB
SB
HDD

0.00449
0.469249
-0.00235
0.001926

-0.0002
0.0254
-0.0001       0.0001
0.0004
0.0799      -0.0004
0.0003
2.   Produksi Daging Sapi Domestik
-    Populasi Sapi
-    Harga Daging Domestik
-    Curah Hujan
QDS

PSP
HDD
CH


21.28174
0.039111
0.031934


70.5831
0.1297
0.1059


83.9265
0.1542
0.1259
3.   Permintaan Daging Sapi
-    Harga Daging Domestik
-    Harga Daging Ayam
-    Harga Telur Ayam
-    Harga Tempe
-    Jumlah Penduduk
-    Pendapatan Perkapita
DDS
HDD
HA
HE
HT
JP
PK

-0.71823
2.360038
-0.8764
0.45293
-1.32094
6.054195

-0.3320        1.0908
-0.4051
0.2094
-0.6106
12.8724

-0.6223
2.0448
-0.7593
0.3924
-1.1445
24.1295
4.   Harga Daging Domestik
-    Penawaran Daging
-    Permintaan Daging
-    Impor Daging Sapi
HDD
SDS
DDS
IDS

-8.16863
8.667023
-0.558507

-1.341
1.423
0.09

-4.969
5.272
0.34
5.   Impor Daging Sapi
-    Harga Daging Domestik
-    Permintaan Daging Sapi
-    Harga Daging Sapi Impor
-    Tarif Impor Daging
-    Kurs Rupiah
IDS
HDD
DDS
HI
TI
KR

0.332062
0.116966
-26.8609
0.429133
-5.17938

0.9644
0.3397
-78.01
1.2463
-15.042

2.1013     0.7402
-169.97
2.7155
-32.775

Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam jangka pendek nilai koefesien elastisitas berkisar antara 0.0001 sampai 70.58, sedangkan dalam jangka panjang nilai koefisien elastisitas jangka panjang berkisar antara 0.0003 sampai 169.97. Pada umumnya dalam jangka pendek dan jangka panjang harga daging sapi domestik bersifat inelastis kecuali pada persamaan impor daging sapi dalam jangka panjang bersifat elastis.  Pendapatan perkapita dalam jangka pendek, bersifat inelastis terhadap permintaan daging sapi sedangkan dalam jangka panjang besifat elastis.

Pembahasan Model Dugaan
Pendugaan parameter dilakukan terhadap lima persamaan struktural dan satu persamaan identitas. Penjelasan masing-masing persamaan akan dibahas berikut ini :

Populasi Sapi Potong
Populasi sapi dari model yang diduga ditentukan oleh harga sapi (HS), inseminasi buatan (IB), suku bunga (SB) dan harga daging domestik (HDD). Inseminasi buatan berhubungan positif dan berpengaruh nyata pada taraf 5 persen terhadap peningkatan populasi sapi potong dalam negeri, serta berbeda nyata dengan nol. Pelaksanaan inseminasi buatan melalui perbanyakan penyebaran straw berakibat terhadap optimalisasi pelaksanaan pertumbuhan reproduksi ternak di pedesaan. Menurut Udin (2004) kegiatan IB merupakan salah satu usaha untuk peningkatan produksi ternak. Respon populasi sapi terhadap inseminasi buatan adalah inelastis yang berkisar antara 0.02 sampai 0.07 untuk elastisitas jangka pendek dan jangka panjang. Artinya bila penyebaran straw bertambah 10 persen maka dalam jangka pendek populasi sapi meningkat 2 persen dan dalam jangka panjang meningkat sebear 7 persen.
Harga daging domestik berpegaruh positif terhadap populasi sapi namun pengarunya tidak nyata. Respon populasi sapi terhadap harga daging domestik bersifat inelastis yang berkisar antara 0.0001dalam jangka pendek samapai 0.0003 dalam jangka panjang. Kurang responya populasi sapi terhadap harga daging domestik disebabkan karena kepemilikan sapi potong diusahakan oleh peternakan rakyat dengan kepemilikan rata-rata 2-5 ekor dan merupakan usaha sambilan atau sebagai tabungan. Kegiatan peternakan sapi belum menjadi kegiatan utama dalam kegiatan ekonomi sehingga penjualan sapi dilakukan pada saat tertentu saja belum mengacu pada tingkat harga daging domestik yang terjadi pada suatu waktu.
Selain itu harga sapi berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan populasi sapi dalam negeri dan tidak berpengaruh nyata, dengan nilai elastisitas jangka pendek -0.0002 dan dalam jangka panjang 0.0004. Harga sapi yang tinggi menyebabkan peternak dengam modal kecil tidak mampu untuk membeli bakalan baru untuk digemukan, namun  dalam jangka panjang akan dapat meningkatkan populasi sapi.
Suku bunga bank berpengaruh negatif terhadap populasi sapi namun pengaruhnya tidak nyata. Hubungan populasi ternak dengan suku bungan bersisfat inelastis yang berkisar antara -0.0001 dalam jangka pendek dan -0.0004 dalam jangka panjang. Umumnya peternak belum banyak yang mengakses modal kerja ke perbankan, peternak menggunakan bank hanya untuk menabung hasil usahataninya. Penggunaan fasilitas kredit berkaitan juga dengan tingkat kemudahan prosedur mendapatkan kredit di lembaga pembiayaan formal. Menurut Supriatna (2009) petani umumnya tidak dapat mengakses lembaga pembiayaan komersil yang berbunga rendah karena tidak memiliki agunan sertifikat tanah dan jaminan pengembalian kredit bulanan serta pengajuan kredit yang rumit.

Produksi Daging Sapi
Produksi daging sapi diduga ditentukan oleh populasi sapi, harga daging sapi, dan curah hujan yang berpengaruh positif terhadap produksi daging sapi. Populasi sapi berpengaruh positif  dan nyata pada taraf 25 persen, sejalan dengan penelitian Kariyasa (2000:11) populasi sapi responsif terhadap produksi daging sapi. Perubahan populasi sapi terhadap produksi daging bersifat elastis dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang yang berkisar antara 70.5 sampai 80.9. Artinya peningkatan populasi sapi sangat berpengaruh besar terhadap peningkatan produksi daging sapi baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Salah satu permasalahan perdagangan sapi potong di Indonesia adalah tingginya biaya trasportasi dari daerah sentra ternak ke sentra konsumen sehingga harga daging ditingkat konsumen sangat tinggi. 
Teori lain menyebutkan adanya pola dari peternak, yang tidak akan menawarkan sapinya ke pasar jika belum merasa ada keuntungan yang wajar yang harus mereka terima dari perbedaan harga daging dengan harga ternak yang terlalu tinggi. Ilham (1998) Selisih harga daging dengan ternak sapi memberikan pengaruh yang nyta pada taraf 1 (satu) persen terhadap penawaran peternakan rakyat.
Curah hujan berpengaruh positif terhadap produksi daging sapi namun pengaruhnya tidak nyata. Curah hujan yang cukup sangat dibutuhkan utuk memproduksi hijaun makan ternak yang berkualitas tinggi serta air minum untuk ternak akan dapat tercukupi. Peternakan sapi di NTT dan NTB pada umumnya dilepas di padang pengembalaan sehingga kebutuhan air hujan sangat diperlukan agar tidak terjadi kekeringan. Tidak nyatanya pengaruh curah hujan adalah karena pada umunya peternakan di pulau Jawa dan Sumatera sudah dipelihara secara intensif jadi kebutuhan pakan hijauan sudah dikelola dengan manajemen pakan yang baik dan kebutuhan air minum sudah dengan sistem irigasi atau sumur. Berbeda dengan temuan Ilham (1998) curah hujan berpengaruh negatif terhadap penawaran peternakan rakyat, karena pada saat curah hujan tinggi hiajauan makanan ternak melimpah sehingga peternak memanfaatkan kondisi tersebut untuk kegiatan penggemukan ternak dan mengurangi penjualan sapi.
Harga daging domestik juga berpengaruh positif terhadap produksi daging namun tidak berengaruh nyata. Elastisitas harga daging domestik terhadap produksi daging adalah 0.12 dalam jangka pendek dan 0.15 dalam jangka panjang. Tingginya harga daging domestik belum menjadi faktor utama untuk meningkatkan produksi daging dalam negeri, karena sistem peternakan besar belum berorientasi bisnis dan juga dengan tinggonya harga sapi, permintaan terhadap daging sapi berkurang sehingga dapat juga mengurangi jumlah pemotongan sapi.


Penawaran Daging Sapi
Perumusan model dari persamaan penawaran daging sapi merupakan persamaan identitas yaitu antara produksi daging sapi dalam negeri dan impor daging sapi. Dengan kata lain bahwa peningkatan produksi daging dalam negeri dan impor daging sapi akan meningkatkan penawaran daging sapi di Indonesia. Sebaliknya penurunan produksi daging dalam negeri dan mengurangi impor daging sapi juga akan menurunkan penawaran daging sapi di Indonesia.

Permintaan Daging Sapi
Permintaan daging sapi dari model, diduga dipengaruhi oleh harga daging itu sendiri, harga daging ayam, harga telur, harga tempe, jumlah penduduk dan pendapatan perkapita. Permintaan daging sapi berhubungan negatif dengan harga riil daging sapi dalam negeri, harga riil telur dan jumlah penduduk serta berbeda nyata dengan nol. Telur ayam dalam hal ini merupakan komoditi yang bersifat komplemen dari daging sapi dalam konsumsi masyarakat.
Keberadaan daging sapi sebagai bahan konsumsi sejalan dengan konsumsi telur ayam. Ada kecenderungan konsumen untuk memakan daging dan telur ayam dalam waktu bersaan atau untuk industri olahan.  Jumlah penduduk tidak berpengaruh positif terhadap permintaan daging sapi, hal ini disebabkan bahwa yang mengkonsumsi daging sapi adalah kalangan ekonomi menengah ketas dan warga Negara asing, sedangkan masyarakat kalangan menengah ke bawah mengkonsumsi daging sapi pada waktu-waktu tertentu saja misalnya peringatan hari-hari besar agama atau pelaksanaan pesta adat. Kenyataan ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan Susastra (1987), Nasution (1983), Sudaryanto, Sayuti, Soedjana (1995)  dan Kariyasa (2002) yang menyimpulkan bahwa pangan asal ternak, khususnya daging sapi masih merupakan barang mewah bagi masyarakat Indonesia.
Sebaliknya harga ayam dan harga tempe merupakan komoditas subsitusi daging sapi. Hal ini ditunjukan oleh hubungan positif kedua peubah tersebut terhadap permintaan daging sapi, dengan  nilai elastisitas untuk harga daging ayam dalam jangka pendek bernilai 1.1472 dan 2.1505 untuk jangka panjang, sedangkan untuk harga tempe dalam jangka pendek  bernilai 12.8724 dan 12.8724 untuk jangka panjang.  Dengan demikian dalam jangka pendek maupun jangka panjang perubahan harga daging ayam akan memberikan dampak yang besar terhadap permintaan daging sapi. Hal ini berbeda dengan temuan Kusumawardhani (1993), Dewi (1994),  Ilham, et al (2001) dan Kariyasa (2002) menyatakan bahwa daging ayam merupakan komplemen untuk daging sapi.
Peubah lain yang memberikan pengaruh positif terhadap permintaan daging sapi adalah peubah pendapatan perkapita, nilai elastisitas pendapatan sebesar 0.6421     dalam jangka pendek dan 1.2037  dalam jangka panjang. Artinya dalam jangka pendek permintaan daging sapi tidak elastis terhadap pendapatan perkapita namun dalam jangka panjang permintaan daging elastis dengan pendapatan perkapita. Sesuai dengan penelitian Ilham (1998) pendapatan perkapitan berpengaruh nyata pada taraf 25 persen terhadap permintaan daging sapi. Dengan demikian jika terjadi kenaikan pendapatan masyarakat 10 persen maka dalam jangka pendek permintaan daging sapi naik sebesar 6.4 persen dan dalam jangka panjang akan naik sebesar 12 persen.
Harga daging berpengaruh negatif terhadap permintaan daging sapi pada taraf nyata diatas 50 persen. Elastisitas permintaan daging sapi terhadap perubahan harga daging sapi dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang adalah bersifat inelastis yaitu berkisar antara -0.3491 sampai -0.6545. Dengan demikian dalam jangka pendek maupun jangka panjang harga daging dalam negeri akan memberikan respon terhadap permintaan daging sapi. Artinya adalah jika harga daging naik 10 persen makan akan terjadi penurunan permintaan terhadap daging sapi sebesar 3.4 persen dalam jangka pendek dan 6.5 persen dalam jangka panjang.

Harga Daging Domestik
Harga daging domestik diduga dipengaruhi oleh penawaran daging sapi, permintaan daging sapi dan impor daging sapi. Penawaran daging berpengaruh negatif terhadap harga daging sapi domestik namun pengaruhnya tidak nyata. Elastisitas harga daging domestik dalam jangka pendek dan jangka panjang bersifat elastis terhadap perubahan penawaran daging sapi, yang berkisar antara -1.41 samapi -5.22. Dengan demikian dalam jangka pendek maupun jangka panjang perubahan penawaran daging akan berpengaruh besar terhadap harga daging sapi domestik. Artinya jika penawaran daging naik 10 persen maka dalam jangka pendek harga daging akan turun 14 persen dan dalam jangka panjang turun 52 persen.
Elastisitas harga daging domestik juga bersifat elastis dalam jangka pendek dan jangkan panjang terhadap perubahan permintaan daging sapi, yang berkisar antara 1.50 sampai 5.54 dan berpengaruh postif terhadap harga daging sapi domestik. Dengan demikian dalam jangka pendek dan jangka panjang perubahan permintaan daging akan berpengaruh besar terhadap harga daging domestik. Artinya jika permintaan daging sapi naik 10 persen maka dalam jangka panjang harga daging akan naik sebesar 15 persen dan dalam jangka panjang naik 55 persen. Sejalan dengan penelitian Kariyasa (2000) bahwa penawaran daging sapi berpengaruh negatif terhadap harga daging sapi domestik dan permintaan daging berpengaruh positif terhadap harga daging sapi.
Impor daging sapi berpengaruh negatif terhadap harga daging sapi domestik namun tidak berbeda nyata.  Elastisitas dalam jangka pendek berkisar antara -0.10 dan -0.36 dalam jangka panjang. Jika impor daging sapi meningkat 10 persen maka dalam jangka pendek harga daging domestik turun sebesar 1 persen dan dalam jangka panjang turun sebesar 3.6 persen. Kebijakan impor yang bertujuan untuk memenuhi segmetasi pasar tertentu dan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik pada waktu-waktu tertentu, dengan harga yang lebih murah dapat menekan harga daging domestik karena konsumen akan mensubsitusi daging domestik dengan daging impor jika terjadi perbedaan harga yang tinggi (Iham, 1998).         

Impor Daging Sapi
Impor daging sapi diduga dipengaruhi oleh harga daging impor itu sendiri, harga daging domestik, permintaan daging sapi, tariff impor dan kurs rupiah. Elastisitas impor daging sapi terhadap harga daging domestik dalam jangka pendek dan jangka panjang bersifat elastis yang berkisar antara 0.96 sampai 2.10. Dengan demikian dalam jangka pendek dan jangka panjang perubahan harga daging sapi akan berpengaruh besar terhadap impor daging sapi. Artinya jika harga daging domestik naik 10 persen maka dalam jangka pendek impor meningkat 9.6 persen dan dalam jangka panajang naik 21 persen.
Permintaan daging sapi berpengaruh positif terhadap impor daging sapi nyata pada taraf  > 50 persen. Elastisitas impor daging sapi terhadap perubahan permintaan daging sapi dalam jangka pendek dan jangka panjang bersifat tidak elastis yaitu berkisar antara 0.33 sampai 0.74. Dengan demikian perubahan nilai permintaan daging sapi dalam jangka pendek dan jangka panjang tidak akan berpengaruh besar terhadap impor daging sapi.
Tarif impor berpengaruh positif dan tidak nyata terhadap impor daging sapi sedangkan nilai elastisitas impor daging terhadap perubahan nilai tariff impor dalam jangka pendek dan jangka panajng bersifat elastis yaitu berkisar antara -1.31 sampai -2.85. Dengan demikian perubahan nilai tariff impor akan berpengaruh besar terhadap impor daging sapi.
Nilai kurs rupiah berpengaruh negatif terhadap impor daging sapi nyata pada taraf 25 persen. Elasitisitas impor daging sapi terhadap kurs rupiah dalam jangka pendek dan juga dalam jangka panjang bersifat elastis yaitu berkisar antara -15.81 sampai -34.46. Dengan demikian perubahan nilai kurs rupiah dalam jangka pendek dan jangka panjang akan berpengaruh terhadap impor daging sapi. Jika nilai kurs rupiah naik sebesar 10 persen maka impor daging akan turun 1.58 persen dalam jangka pendek dan 3.44 persen dalam jangka panjang.
Harga daging impor berpagaruh negatif dan sangat nyata terhadap impor daging sapi pada taraf 5 persen. Ealastisitas impor daging sapi terhadap perubahan harga daging impor itu sendiri dalam jangka pendek dan jangka panjang bersifat elastis yaitu berkisar antara -78.01 sampai -169.97. Dengan demikian perubahan nilai harga daging sapi impor dalam jangka pendek dan jangka panjang akan berpengaruh besar terhadap impor daging sapi. Jika harga daging naik sebesar 10 persen maka impor daging sapi dalam jangka pendek akan turun sebesar 7.8 persen dan dalam jangka panjang akan turun sebesar 16.9 persen

VALIDASI MODEL DAN SIMULASI KEBIJAKAN
Simulasi kebijakan bertujuan untuk menganalisis alternatif kebijakan, dengan cara mengubah nilai-nilai peubah kebijakan, terhadap perubahan indikator-indikator kesejahteraan domestik. Simulasi kebijakan historik statik dilakukan dari tahun 1993-2012 yang bertujuan untuk mengevaluasi kebijakan terkait dengan penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia. Simulasi kebijakan historik bertujuan untuk mengevaluasi perubahan terhadap peubah-peubah kebijakan pada penelitian. Peubah-peubah kebijakan itu antara lain, peningkatan teknologi inseminasi buatan, menurunkan harga daging sapi domestik, menurunan suku bunga, meningkatkan nilai kurs rupiah, menaikan harga sapi dan meningkatkan pendapatan perkapita.

Validasi Model
Validasi model bertujuan untuk melihat apakah nilai pendugaan model sesuai dengan nilai aktual dari peubah endogen. Tingkat kevalidan suatu model dapat dari beberapa indikator, seperti Root mean Square Error (RMSE), Root Mean Square Precent Error  (RMSE), statistik U dan nilai koefisien determinasi atau R2 semua peubah endogen.
Validasi model secara historis dengan menggunakan data sekunder tahun 1993-2012 ditunjukan pada tabel 12 Pada umumnya suatu model valid jika nilai U dan Um sangat kecil. Menurut Pindyck and Rubinfeld (1991) nilai Um  tidak boleh lebih dari 0.20. Jika model mempunyai nilai Um lebih besar dari 0.20 maka model tersebut perlu direvisi atau diulangi.
Pada tabel 12 diketahui bahwa peubah endogen harga daging domestik dan impor daging sapi mempunyai nilai RMSPE yang lebih besar dari 20 persen. Sedangkan nilai U dan Us pada umumnya berada dibawah 0.20 persen untuk semua peubah endogen. Secara keseluruhan model tidak mengalami kesalahan sistematik, karena nilai Um untuk semua peubah endogen lebih kecil dari 0.20. Oleh karena itu model diduga dapat digunakan untuk evaluasi kebijakan.
Tabel 12. Validasi model penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia tahun
                1993-2012.
Model
SDS
PSP
QDS
DDS
HDD
IDS
RMSE
41.6434
0.3388
41.9795
37.4011
34.4392
8.6767
RMSPE
9.5677
3.0102
10.1136
8.5804
25.3571
65.6822
U
0.0493
0.0142
0.0533
0.0444
0.0526
0.1231
Um
0.00
0.01
0.00
0.00
0.03
0.00
Us
0.03
0.03
0.03
0.05
0.00
0.01
Uc
0.97
0.97
0.97
0.95
1.00
0.99
Ur
0.03
0.00
0.08
0.01
0.00
0.01
Ud
0.97
1.00
0.92
0.99
1.00
0.99
R2
0.79
0.97
0.65
0.83
0.98
0.93

Keterangan :    RMSE            = Root mean Square Error
                        RMSPE           = Root Mean Square Precent Error
                        U                     = Theil’s inequality coefficient
PSP     = Populasi Sapi Potong
QDS    = Produksi Daging Sapi
DDS    = Permintaan Daging Sapi
HDD   = Harga Daging Domestik
IDS     = Impor Daging Sapi


Simulasi Kebijakan Historik
Simulasi kebijakan model ekonomi daging sapi yang diterapkan dalam studi ini adalah : 1) Meningkatkan teknologi inseminasi buatan 10 persen, 2) menurunkan suku bunga 5 persen, 3) menaikan harga sapi 10  persen, 4) devaluasi rupiah 5 persen, 5) menurunkan harga daging 10 persen, dan 6) pendapatan perkapita meningkat 5 persen.

Peningkatkan Teknologi Inseminasi Buatan 10 persen

Inseminasi Buatan (IB) merupakan teknologi reproduksi ternak dalam rangka mempercepat peningkatan produksi dan perbaikan genetik ternak. Penggunaan teknologi IB adalah sebagai upaya untuk memparbanyak semen sapi pejantan unggul untuk dapat disistribusikan ke wilayah sentra-sentra produksi ternak. Semen sapi pejantan unggul akan diencerkan dengan media pengencer sebagai nutrient dan selanjutnya disimpan dalam straw. Perkembangbiakan sapi melalui Inseminasi Buatan diharapkan mampu meningkatkan produktivitas ternaik baik kualits anak yang dihasilkan maupun ketepatan jarak melahirkan (calving interval).
Berdasarkan simulasi peningkakatan penggunaan teknologi IB melalui perbanyakan penyebaran straw, dapat meningkatkan populasi ternak sapi seperti terlihat pada tabel 13, dengan peningkatan 10 persen penyebaran straw untuk IB pada ternak sapi potong, dapat meningkatkan 2.03 persen populasi sapi potong. Populasi berhubungan positif dengan produksi daging sapi, dengan meningkatnya populasi sapi sebesar 2.03 dapat meningkatkan produksi daging sebesar 0.05 persen sehingga dapat menurunkan impor daging sapi sebesar 0.2 persen. Tingginya produksi daging sapi dalam negeri menyebabkan penawaran daging meningkat yang berpengaruh terhadap menurunnya harga daging sapi domestik 0,07 persen sehingga permintaan daging sapi meningkat sebesar 0.05 persen.
Berdasarkan program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (2012), penerapan teknologi IB difokuskan pada wilayah padat penduduk seperti Pulau Jawa dan Sumatera sedangkan untuk wlayah Indonesia bagian Timur lebih difokuskan pada kawin alam. Semen beku untuk Inseminasi Buatan di produksi oleh Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang dan BIB Singosari dan untuk membantu perbanyakan penyebaran straw sapi potong di daerah sentra produksi, juga dikembangkan Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD).
Tabel 13. Peningkatan teknolgi Inseminasi Buatan 10 persen
No
Peubah
Nilai simulasi dasar
Nilai simulasi kebijakan
Peubah
Unit
%
1
SDS
417.2
419.1
0.200
0.05
2
PSP
11.8298
11.9457
0.240
2.03
3
DDS
416.5
418
0.200
0.05
4
HDD
248.3
273.7
-0.200
-0.07
5
IDS
26.8306
26.3003
-0.054
-0.20
6
QDS
390.4
392.8
0.200
0.05

Keterangan :    SDS     = Supplay Daging Sapi
                        PSP     = Populasi Sapi Potong
                        DDS    = Permintaan Daging Sapi
                        HDD   = Harga Daging Sapi Domestik
                        IDS     = Impor Daging Sapi
                        QDS    = Produksi Daging Sapi        

           
Penurunan Suku Bunga 5 persen

Suku bunga bank merupakan faktor input bagi usaha yang menggunakan jasa perbankan untuk mendapatkan modal. Simulasi penurunan suku bunga 5 persen yang meransang tumbuhnya usaha dapat dilihat pada tabel 14. Penurunan suku bunga berarti menurunkan biaya produksi sehingga diharapkan timbul minat peternak untuk menambah populasi ternaknya sehingga jumlah daging yang ditawarkan atau produksi dagng sapi dalam negeri mengalami peningkatan.  Dengan menurunkan suku bunga 5 persen akan dapat meningkatkan populasi ternak sapi potong sebesar 0.06 persen sehingga dengan kenaikan populasi berdampak terhadap peningkatan produksi daging dalam negeri sebesar 0.03 persen sehingga impor daging sapi 0.12 persen. Peningkatan produksi dalam negeri menyebabkan supplai daging meningkat menjadi 0.02 persen sehingga harga daging domestik turun menjadi 0.04 persen. Penurunan harga daging domestik berpengaruh terhadap peningkatan permintaan daging sapi sebesar 0.02 persen. Kebijakan penurunan suku bunga akan menekan biaya produksi dan biaya-biaya distribusi sehingga minat peternak untuk meningkatkan populasi ternak semakin tinggi.
Tabel 14. Kebijakan penurunan suku bungan 5 persen
No
Peubah
Nilai simulasi dasar
Nilai simulasi kebijakan
Peubah
Unit
%
1
SDS
417.2
417.3
0.100
0.02
2
PSP
11.8298
11.8371
0.007
0.06
3
DDS
416.5
416.6
0.100
0.02
4
HDD
275.8
275.7
-0.100
-0.04
5
IDS
26.8306
26.7971
-0.034
-0.12
6
QDS
390.4
390.5
0.100
0.03


Harga Sapi Naik 10 persen

Harga sapi ditingkat peternak menjadi hal yang mendasar dalam pengembangan peternakan, harga sapi tinggi diharapkan dapat meningkatkan semangat peternak untuk meningkatkan produksi ternak sapi, namun sebaliknya juga bisa menurunkan minat untuk berusaha dibidang peternakan karena harga bibit untuk dikembangbiakan atau bakalan untuk digemukan menjadi tinggi.
Tingginya harga sapi menyebabkan peternak untuk meningkatkan penawaran ternaknya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi, namun bagi peternak dengan modal kecil karena harga sapi yang tinggi akan kesulitan untuk membeli ternak untuk bibit atau untuk bakalan, sehingga peternak akan mengurangi populasi ternaknya.
Berdasarkan hasil simulasi kebijakan menaikan harga sapi ditingkat peternak 10 persen dapat menyebabkan populasi sapi turun sebesar 0,41 persen sehingga berpengaruh terhadap produksi daging yang menurun sebesar 0,26 persen. Penurunan populasi sapi akan terjadi dalam jangka pendek hal ini sesuai dengan elastistas populasi sapi terhadap harga sapi yang bertanda negatif dalam jangka pendek. Menurunnya produksi daging sapi dalam negeri berpengaruh terhadap berkurangnya penawaran daging sapi sebesar 0.19 persen sehingga harga daging meningkat menjadi 0.33 persen. Harga daging yang tinggi menyebabkan permintaan terhadap daging berkurang sebesar  0.14 persen. Tingginya harga daging sapi dalam negeri menyebabkan impor daging sapi meningkat 0.82 persen. 
Tabel 15. Harga sapi naik 10 persen
No
Peubah
Nilai simulasi dasar
Nilai simulasi kebijakan
Peubah
Unit
%
1
SDS
417.2
416.4
-0.800
-0.19
2
PSP
11.8298
11.7816
-0.048
-0.41
3
DDS
416.5
415.9
-0.600
-0.14
4
HDD
275.8
276.7
0.900
0.33
5
IDS
26.8306
27.0508
0.220
0.82
6
QDS
390.4
389.4
-1.000
-0.26

Kebijakan Devaluasi Tukar Valuta Asing sebesar 10 persen

Kebijakan devaluasi nilai tukar valuta asing (dollar USA) terhadap rupiah sebesar 10 persen akan menyebabkan nilai nominal rupiah naik 10 persen. Nilai simulasi kebijakan devaluasi nilai tukar valuta asing tersebut dapat dilihat pada tabel 16.
Tabel 16. Kebijakan Devaluasi Tukar Valuta Asing sebesar 10 persen
No
Peubah
Nilai simulasi dasar
Nilai simulasi kebijakan
Peubah
Unit
%
1
SDS
417.2
414.3
-2.900
-0.70
2
PSP
11.8298
11.8357
0.006
0.05
3
DDS
416.5
414.3
-2.200
-0.53
4
HDD
275.8
278.8
3.000
1.09
5
IDS
26.8306
23.7305
-3.100
-11.55
6
QDS
390.4
390.6
0.200
0.05

Dari tabel 16 tersebut dapat dilihat bahwa kebijakan devaluasi nilai tukar valuta asing sebesar 10 persen akan mengakibatkan impor daging sapi turun sebesar 11.55 persen. Berkurangnya impor  daging sapi menyebabkan penawaran daging sapi berkurang 0.70 persen sehingga harga daging sapi dalam negeri mengalami peningkatan sebesar 1.09 persen. Akibat dari penigkatah harga daging sapi dalam negeri menyebabkan permintaan daging sapi menurun sebesar 0.53 persen. Kebijakan devaluasi nilai tukar valuta asing sebesar 10 persen juga dapat meningkatkan populasi sapi sebesar 0.05 persen yang selanjutnya diikuti oleh peningkatan produksi dalam negeri sebesar 0.05 persen. Peningkatan produksi daging tidak signifikan untuk meningkatkan penawaran daging sapi hal ini disebabakan oleh karena supplai daging dari impor sangat berkurang dalam jumlah yang sangat besar.

Peningkatan Pendapatan Perkapita Penduduk Indonesia Sebesar 5 persen.

Jika pertumbuhan pendapatan perkapita penduduk Indonesia naik sebesar 3 persen, maka nilai simulasi dari peningkatan penduduk perkapita penduduk Indonesia dapat dilihat pada tabel 17 berikut ini.
Tabel 17. Peningkatan Pendapatan Perkapita Penduduk Indonesia Sebesar 5 persen.

No
Peubah
Nilai simulasi dasar
Nilai simulasi kebijakan
Peubah
Unit
%
1
SDS
417.2
418.5
1.300
0.31
2
PSP
11.8298
11.8352
0.005
0.05
3
DDS
416.5
418
1.500
0.36
4
HDD
275.8
278.6
2.800
1.02
5
IDS
26.8306
27.9119
1.081
4.03
6
QDS
390.4
390.6
0.200
0.05

Dari tabel 17 tersebut dapat dilihat bahwa dengan peningkatan pendapatan perkapita penduduk Indonesia akan meningkatkan permintaan daging sapi sebesar 0.36 persen. Meningkatnya permintaan daging sapi tersebut akan mengakibatkan meningkatnya harga daging sapi dalam negeri 1.02 persen dan meningkatnya impor daging sapi 4.03 persen. Peningkatan harga daging sapi sebesar 1.02 persen menyebabkan populasi sapi meningkat 0.05 persen, dan meningkatnya produksi daging sapi sebesar 0.05 persen sehingga penawaran daging sapi meningkat sebesar 0.31 persen.



KESIMPULAN DAN APLIKASI KEBIJAKAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlakuakn penawaran dan permintaan daging sapi di Indonesia dengan menggunakan model ekonometrika. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan pemerintah untuk meningkatkan produksi daging sapi dan daya saing peternakan dalam negeri karena impor daging sapi masih sangat tinggi dan cenderung meningkat setiap tahunnya.
Pendugaan koefisein persamaan struktural menggunakan linear Two Stage Least Squares (2SLS), masing-masing persamaan variasi peubah endogen dapat dijelaskan dengan baik oleh variasi peubah-peubah penjelas (explanatory variabel) dan secara bersama-sama peubah-prubah penjelas (explanatory variabel) berpengaruh nyata terhadap peubah endogen. Validasi model dengan simulasi historik statis menunjukan hasil yang cukup memuaskan.
Kesimpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.        Populasi sapi dipengaruhi oleh harga sapi, inseminasi buatan, suku bunga, harga daging domestik dan lag populasi sapi. Inseminasi Buatan (IB) dan harga daging domestik responsif terhadap peningkatan populasi ternak sapi potong. Untuk meningkatan populasi sapi potong perlu untuk meningkatan pelayanan IB dengan memperbanyak dosis (straw) yang disebarkan kepada para peternak. Kebijakan pemerintah untuk mensubsidi biaya inseminasi buatan sangat baik untuk membantu dan meningkatkan semangat peternak untuk melakukan IB ternaknya sehingga kegiatan produksi dan reproduksi ternak dapat dikontrol dengan baik. Untuk mendukung perkembangan informasi harga daging sapi perlu untuk membangun pusat-pusat informasi harga daging di RPH atau pasar konsumen sehingga kenaikan harga daging ditingkat konsumen dapat meningkatkan produksi daging sapi peternak. Harga sapi dan suku bunga bank berpengaruh negatif terhadap populasi sapi sehingga kenaikan harga sapi ditingkat peternak agar tidak terlalu tinggi karena akan dapat menurunkan populasi sapi dan menurunkan produksi daging sapi dalam negeri karena peternak tidak mampu untuk membeli sapi bakalan untuk digemukan kembali. Kredit pembiayaan dengan bungan rendah perlu untuk ditingkatkan, karena para peternak sudah mulai mengakses kredit pembiayaan untuk sapi potong namun masih terkendala dengan tidak adanya agunan.

2.        Produksi daging sapi berpengauh positif dengan populasi sapi, curah hujan dan harga daging sapi. Semua faktor dugaan tidak ada yang responsif baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Kebijakan peningkatan populasi untuk produksi daging sapi harus didukung dengan kebijakan pasca panen dan distribusi agar memberikan dampak yang nyata terhada produksi daging untuk memnuhi permintaan konsumen.

3.        Permintaan daging sapi tidak responsif terhadap harga daging, harga telur dan jumlah penduduk. Permintaan daging sapi responsif terhadap harga riil daging ayam dan harga riil tempe dalam jangka pendek maupun jangka panjang sedangkan terhadap pendapatan perkapita tidak responsif dalam jangka pendek tetapi responsif dalam jangka panjang.

4.        Harga daging domestik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang responsif terhadap penawaran dan permintaan daging sapi serta tidak responsif terhadap impor daging sapi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

5.        Impor daging sapi dalam jangka pendek dan jangka panjang resposif terhadap harga daging domestik, harga impor, tariff impor dan kurs rupiah. Sedangkan impor daging tidak responsif terhadap permintaan daging sapi baik dalam jangka pendek maupun jangka panajang. Perlu kebijkan stabilisasi harga agar harga domestik tidak terlalu tinggi sehingga impor dapat dikurangi.

6.        Kebijakan teknologi inseminasi buatan (IB) dengan perbanyakan penyebaran dosis straw akan dapat untuk meningkatkan populasi ternak yang akan diikuti oleh peningkatan produksi dan penawaran daging sapi yang akan dapat menekan harga daging domestik  sehingga impor daging akan berkurang.

7.        Kebijakan menurunkan tingkat suku bunga akan dapat meningkatkan populasi sapi dan dapat mengurangi impor daging sapi.

8.        Kebijakan meningkatkan harga sapi ditingkat peternak akan dapat menurunkan populasi ternak dan produksi daging dalam negeri sehingga harga daging sapi menjadi tinggi yang mengakibatkan impor daging juga semakin meningkat.

9.        Kebijakan devaluasi tukar valuta asing akan meningkatkan populasi sapi mengurangi impor daging sapi sehingga penawaran daging sapi juga menurun akibatnya harga daging sapi dalam negeri menjadi meningkat. Akibat dari meningkatnya harga daging sapi akan mengakibatkan permintaan daging menjadi turun.

10.    Peningkatan pendapatan perkapita akan meningkatkan permintaan daging sapi sehingga harga daging dalam negeri menjadi meningkat akibatnya impor juga meningkat. Populasi sapi dan produksi daging juga ikut meningkat tapi lebih kecil dari peningkatan permintaan.

11.    Kebijakan menaikan IB akan menaikan surplus produsesn dan surplus konsumen serta dapat menurunkan pengeluaran devisa negara. Dengan demikian kebijakan peningkatan IB baik bagi produsen, konsumen dan negara.

12.    Kebijakan menurunkan suku bunga akan menaikan surplus produsen dan surplus konsumen serta dapat menurunkan pengeluaran devisa negara. Dengan demikian kebijakan penurunan suku bunga baik bagi produsen, konsumen dan negara.

13.    Kebijakan devaluasi nilai tukar valuta asing akan menaikan surplus produsen dan surplus konsumen serta dapat menurunkan pengeluaran devisa negara. Dengan demikian kebijakan menaikan harga sapi tingkat peternak baik bagi produsen dan konsumen serta baik bagi negara.

14.    Kebijakan peningkatan pendapatan perkapita akan menaikan surplus produsesn dan surplus konsumen serta dapat menaikan pengeluaran devisa negara. Dengan demikian peningkatan pendapatan perkapita baik bagi produsen dan konsumen sebaliknya tidak baik bagi negara.

Implikasi Kebijakan
Hasil pendugaan dan analisis alternatif kebijakan dari model persamaan struktural yang telah dibentuk dapat disarankan implikasi kebijakan sebagai berikut :
1.        Pengembangan teknologi reproduksi sapi melalui inseminasi buatan (IB) perlu ditingkatkan untuk meningkatkan populasi sapi. Pengembangan IB akan dapat mengontrol produksi dan reproduksi sapi sekaligus akan dapat untuk memperbaiki genetik sapi potong yang lebih produktif.

2.        Perlu untuk memberikan subsidi permodalan bagi peternak melalui fasilitasi bunga bank rendah yang mudah diakses oleh peternak.

3.        Kebijakan menaikan harga sapi ditingkat peternak harus sejalan dengan subsidi sarana produksi ternak dan kemudahan akses permodalan dari lembaga pembiayaan bank atau non bank sehingga peternak mampu untuk meningkatkan produksi dan efisiensi produksi

4.        Perlu untuk mengatur pola distribusi dan tataniaga sapi potong supaya lebih efisien sehingga perbedaan harga sapi ditingkat peternak tidak jauh berbeda dengan harga daging ditingkat konsumen.

5.        Kebijakan devaluasi nilai tukar valuta asing perlu diiukuti dengan pengaturan harga daging domestik agar daya beli konsumen tinggi untuk konsumsi daging.

6.        Peningkatan permintaan daging sapi akibat dari meningkatnya pendapatan perkapita harus diimbangi dengan peningkatan produksi sapi dan daging dalam negeri agar impor dapat dikurangi.



DAFTAR PUSTAKA
Artiyati, A. 2011. Penwaran Daging Sapi di Indonesia, Analisis Proyeksi Swasembada Daging Sapi 2014. Thesis Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Branson W.H and J.M. Litvack, 1981. Macroeconomic. 2nd. Ed. Harper and Row Publishers. New York.
Badan Pusat Statisti, 2011
Daryanto, A. 2010. Daya saing Industri Peternakan, IPB Press, Bogor.
Daris. E. 2002. Analisis Penawaran dan Permintaan Jagung di Indonesia Melalui Penekatan Ekonometrika. Disertasi Program Pascasarjana, Universitas Padjadjaran.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2011. Statistik Peternakan. Departemen Pertanian, Jakarta.
………………………………... 2003. Statistik Peternakan. Departemen Pertanian, Jakarta.
Doll. J.P and F. Orazem. 1984. Production Economic : Theory with Aplication. Second Ed. John Wiley  & Son. Inc.New York.
Ilham, N. 1998. Penawaran dan Permintaan Daging Sapi di Indonesia Suatu Analisis Simulasi. Thesis Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Januarti, I. 2012. Permintaan dan Penawaran Daging Sapi di Indonesia. Thesis. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Khoirunissa. 2008. Analisis permintaan daging ayam broiler konsumen keluarga di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok. Skripsi. Progam Studi Sosial Ekonomi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Koutsoyiannis, A. 1975. Modern Microeconomic. Halsted-Press Book Water 100. Ontario.
Labys, W.C. 1975. Quantitive Models of Commodity Markets, Billinege Publishing Company. Combrige, Mass.
Lipsey, R.G, Paul N. Courant, D. Purvis, dan P.O. Steiner. 1995. Ekonomi Mikro. Binarupa Aksara. Jakarta.
McConnell, C.R. and Brue, S.L. 1990. Microeconomics. McGraw-Hill Publishing Company. United State of America.
Purcell, W.D. 1979. Agricultural Marketing, systems, coordination, Cash and Future Prices. Reston, Virginia.
Samuelson, P.A and Nordhaus, W.D. 2003. Ilmu Mikroekonomi Edisi 17. Terjemahan: Nur Rosyidah, Anna Elly, dan Bosco Carvallo. PT Media Global Edukasi. Jakarta.
Sarwono, B dan H. B. Arianto. 2003. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat. Penebar Swadaya. Jakarta.
Simatupang, P. Sudaryanto, T dan S. Mardianto. 1995. Livestock Supply Response in Indonesia. Center for Agro Socio Economic Research, Bogor – Indonesia in Coloboration with International Food Policy Research Institute, Wasihington D.C. USA.
Sukirno, S. 1995. Pengantar Teori Mikroekonomi. PT Raja Grafindo Perkasa. Jakarta
Arifin, B. 2013. Ekonomi Pembangunan Pertanian. IPB Press. Bogor

“NEGARA KAYA TERNAK TIDAK AKAN PERNAH MISKIN”

Sejak dilakukan domestikasi  ( m enjinakan) hewan buruan oleh manusia, yang pada awalnya hanya untuk kebutuhan pangan keluarga sehari-hari, ...